Suramnya Ekonomi 2019 dan Prospek Ekonomi Syariah 2020

Firmansyah Lafiri
Wednesday, 01 January 2020 | 06:56 Wita

Oleh : DR HM Andi Yusran MBA MM

Cendekia.News — Realitas pertumbuhan dan perkembangan ekonomi Indonesia tahun 2019 belum memberikan hasil yang diharapkan.

Pertumbuhan ekonomi yang dilihat dari pendapatan domestik Bruto (PDB) masih melambat pada kuartal III 2019 di level 5,02 persen, yang sebelumnya kuartal I dan II-2019 yang tumbuh 5,07% dan 5,05%.

Kondisi ini disebabkan karena realitas ekonomi global di level 3,7 persen. Di samping itu perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok masih menghantui kondisi ekonomi negara-negara yang terkait dengan Amerika Serikat dan Tiongkok seperti Indonesia.

Di sisi lain kondisi fundamental ekonomi Indonesia masih lemah dalam mendukung percepatan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Hal ini dapat dilihat dari makro ekonomi Indonesia antara lain; Nilai kurs Rupiah yang masih tergerus, neraca pembayaran masih sering defisit, ketergantungan pada impor, masih rendahnya volume ekspor serta cadangan devisa yang masih tergerus.

Selain itu penanaman modal asing (PMA) semakin menurun, aliran dana global yang cepat dan massif keluar, besarnya beban hutang negara serta besarnya tingkat suku bunga.

Selanjutnya penyebab lambatnya pertumbuhan ekonomi nasional, karena pola pembangunan masih dominan pada pembangunan infrastruktur yang belum mampu mendorong pergerakan ekonomi, sementara pembangunan nanufaktur sangat lambat, padahal sektor ini sangat potensial dalam mendorong kegiatan industri dan pengolahan.

Selain itu beban impor BBM yang begitu besar serta beban bunga hutang juga menjadi sebab melambatnya pertumbuhan ekonomi, termasuk pengelolaan BUMN yang banyak bermasalah serta perilaku korupsi.

Hal ini tentunya akan berakibat pada pengembangan usaha, kegiatan investasi, serapan tenaga kerja dan pendapatan masyarakat.

Olehnya itu dalam menyikapi realitas kondisi ekonomi tahun 2019 dan menghadapi keadaan ekonomi tahun 2020, ISMI Sulsel melalui dialog akhir tahun ada beberapa usulan dan langkah yang harus diupayakan antara lain:

1. Membangun keyakinan dan sikap optimis dalam menghadapi peluang dan tantangan ekonomi tahun 2020 dan tahun-tahun berikutnya

2. Mendorong pengembangan, penguatan dan daya saing UMKM yang berorientasi ekspor

3. Membangun sinergitas pengusaha dan konektifitas dalam pengembangan ekonomi

4. Mendorong pengembangan dan penguatan pariwisata halal dan ekonomi kreatif

5. Mendorong dan meningkatkan penguatan pengelolaan sumber daya lokal (pertanian, peternakan, perikanan, tambang dll)

6. Mendorong pemerintah untuk membuat regulasi terhadap keberpihakan dan kemudahan usaha dan investasi bagi UMKM

7. Mendorong pengembangan dan penguatan ekonomi syariah dari berbagai sektor dengan mendukung strategi pelaksanaan master plan ekonomi syariah 5 tahun ke depan.

Master plan ekonomi syariah yang patut didukung dan didorong realisasinya antara lain: a. Penguatan value halal chain dari hulu sampai hilir; b. Penguatan Lembaga keuangan syariah baik bank maupun non bank; c. Penguatan UMKM berbasisi syariah; d. Penguatan digitalisasi usaha pada UMKM dengan pengelolaan keuangan dalam negeri

8. Mendorong peningkatan ekspor dan mengurangi ketergantungan pada impor khususnya produk utama; pangan, sandang, papan, energi dan kesehatan

9. Mendorong investasi dengan membuka permodalan modal asing yang berbasisi syariah.

10. Mengurangi biaya pembangunan dengan ketergantungan hutang luar negeri

11. Mendorong pengembangan dan penguatan industrilisasi manufaktur

12. Mendorong dan pengembangan SDM yang berbasisis kompetensi dan bersyariah

13. Mendorong pemerintah dalam mengelola BUMN yang lebih professional, amanah, trasparan, jujur dan berintegritas.(*)

*) Ketua Ikatan Saudagar Muslim Indonesia (ISMI) Sulawesi Selatan.


BACA JUGA