Narkoba Biang Seluruh Kejahatan

Firmansyah Lafiri
Friday, 14 August 2020 | 07:37 Wita

■ KHAZANAH SEJARAH: Ahmad M. Sewang

Cendekia.News — Ketika Hamka Mahmud yang tergabung dalam DANI (Da’i Anti Narkoba) bersilaturahmi ke rumah, beliau menyampaikan maksudnya agar saya sebagai Ketua Umum DPP IMMIM ikut memberi sambutan pada bukunya yang akan diterbitkan ulang. Dengan senang hati menyambutnya, sambil memberi support bahwa jika ingin dikenang sepanjang masa, maka menulislah, pasti akan dikenang sekali pun tulang belulang sudah hancur dalam kuburan.

Kenapa Syekh Yusuf al-Makasari tetap dikenang sekali pun sudah meninggal beberapa abad silam? Karena beliau meninggalkan sejumlah 23 buah buku, membuatnya selalu diulang kaji oleh para peneliti sampai sekarang. Beliau bagai sumur yang tak pernah kering, sekali pun airnya ditimba terus-menerus.

Dengan alasan itu, saya menyambut gembira penulisan buku DANI, di samping sebagai usaha mengembangkan budaya literasi, juga aktif sebagai da’i membasmi narkoba yang menjadi masalah menggerogoti moral bangsa. Dalam hadis disebut ummul khabaais (biang kejahatan) yang bisa mengancam kelanjutan generasi.

Sejak masih anak-anak di kampung, para ulama menanamkan pada saya bahwa khamar atau salah satu jenisnya, seperti narkoba, dalam Alquran disebut najis dan sumber segala dosa.

Ulama itu mengutip dari Usman bin ‘Affan r.a. berkisah, “Dahulu ada seorang abid (ahli ibadah) yang rajin ke masjid. Seorang pelacur ingin mengujinya. Pelacur tersebut mengutus pembantunya untuk menyampaikan undangan, agar si Abid itu datang ke rumahnya untuk suatu kesaksian. Ahli ibadah itu pun memenuhi undangan itu dan ditemani oleh pembantu tersebut. 

Ketika dia sudah sampai dan masuk ke dalam rumah, sang pelacur segera menutup rapat pintu rumah. Mata sang abid tertuju ke sosok seorang wanita yang amat cantik dengan pakaian seksi. Sang pelacur sudah menyiapkan secawan khamar dan bayi yang masih kecil di sampingnya.

Wanita tersebut berkata, “Demi Allah, aku tidak mengundangmu untuk sebuah kesaksian, tapi aku mengundang agar engkau bercinta denganku, atau engkau ikut minum khamar barang segelas bersamaku, atau engkau harus membunuh bayi ini. “Jika engkau menolak, maka saya akan berteriak, agar kau jadi bulan-bulanan masyarakat ramai”, ancamnya.

Akhirnya sang ahli ibadah bertekuk lutut dan dia berkata, “Zina, saya tidak mau. Membunuh juga tidak. ” Lalu ia memilih untuk meminum khamar yang dianggapnya dosa lebih ringan, hingga akhirnya ia mabuk.  Setelah mabuk kehilangan akal sehatnya, pada akhirnya ia berzina pada pelacur tersebut dan juga membunuh bayi itu.

Dalam mengakhiri kisahnya, Usman berkesimpulan, “Karena itu jauhilah khamar (narkoba), karena iman tidak dapat menyatu dengan khamar dalam dada seseorang, melainkan harus keluar salah satunya.” (HR. An-Nasa’i, no. 5669; 5670. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih )

Buku yang sedang di depan pembaca ini, jika ingin mengetahui lebih jauh bahwa khamar atau narkoba sebagai sumber semua kejahatan, maka saya rekomendasikan membaca secara saksama buku ini. Semoga dengan membaca buku ini, tidak lagi terdengar bahwa transaksi narkoba justru di dalam lembaga pemasyarakatan.■


BACA JUGA