Hakikat Kemerdekaan

Firmansyah Lafiri
Monday, 17 August 2020 | 21:51 Wita

■ KHAZANA SEJARAH: Prof Ahmad M. Sewang

Cendekia.News — 17 Agustus 1945 adalah hari kemerdekaan kita dari kolonial. Kemerdekaan artinya bebas dari segala bentuk panjajahan, baik fisik atau pun psychic (jiwa). Kemerdekaan fisik, artinya bangsa Indonesia merdeka dari penjajahan secara fisik.

Sekarang kedaulatan sudah ada di tangan sendiri, para kolonial sudah 75 tahun angkat kaki di tanah ibu pertiwi. Pertanyaannya, apa betul kita sudah merdeka?

Ternyata, jika berpegang pada definisi di atas, bangsa masih terjajah dari segi jiwa, karena belum bebas dari kemiskinan dan kebodohan.

Jika the founding fathers telah berhasil mengantar bangsa ke pintu gerbang kemerdekaan, maka tugas kita sebagai generasi masa kini, bertugas untuk mengisi kemerdekaan itu dengan membebaskan bangsa ini dari kemiskinan dan kebodohan menuju masyarakat adil dan makmur.

Ir. Soekarno, presiden pertama R.I. berkata, kemerdekaan sesungguhnya, jika seluruh rakyat Indonesia sudah bebas dari kemiskinan. Itu berarti kita belum merdeka, sebab masih banyak peminta-minta di jalanan. Belum lagi kesenjangan sosial semakin menjadi-jadi.

Almarhum Prof. Nurcholish Madjid menyebutnya yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Bahkan menurut TNP2K (Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinanan), satu persen orang di Indonesia menguasai 50% aset Nasional.

Jadi, yang terjadi adalah kesenjangan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Kesenjangan, memang juga terjadi di Amerika, namun yang paling miskin masih bisa beli mobil dan sewa rumah.

Kemerdekaan juga bermakna, jika sudah bisa menjadikan hukum sebagai supremasi, tidak menggunakan semua cara untuk mencapai tujuan. Dalam bahasa agama, barulah sungguh-sungguh seseorang merdeka, jika sudah sanggup melawan musuh utama yang bercokol dalam diri sendiri, yaitu hawa nafsu.

Tidak heran, jika Nabi mengingatkan, sesaat setelah kembali dari Perang Badar, “Kita baru kembali dari perang kecil dan akan menghadapi perang lebih besar.” Para sahabat yang mendengar peringatan itu merasa kaget.

Mereka beranggapan bahwa Perang Badar yang banyak menelan korban itu adalah perang terbesar yang pernah mereka alami, sehingga mereka bertanya, “Apa yang dimaksud dengan perang terbesar itu?” Rasulullah saw. menjawab, yaitu. “Jihad melawan hawa nafsu.

Kenapa melawan hawa nafsu disebut jihad terbesar? Karena dengan hawa nafsu semua bisa dilakukan, tanpa peduli lagi haram atau halal, yaitu dengan memakai cara Machiavelli mencari harta dan memburu jabatan. Idealisme pun bisa dijual karena nafsu.

Soekarno dan Hatta bisa saja menggadaikan idealismenya untuk perjuangan kemerdekaan dengan memilih jalan aman untuk mendapatkan harta benda yang menggiurkan dari penjajah, seperti yang diiming-iming.

Tetapi mereka adalah negarawan sejati, mereka memilih penjara daripada menjual idialismenya. Hatta misalnya, lebih memilih penjara tahun 1932 di Banda Neire demi perjuangan.

Di penjara Hatta justru lebih tenang dan merasa lega dan memanfaatkan waktunya dalam penjarah dengan menulis sebuah buku berjudul, “Filsafat Yunani”. Buku inilah dijadikan mahar perkawinannya dengan Ibu Rahmi.

Karena itu, di antara perbedaan negarawan dan penguasa. Soekarno Hatta di penjara dulu, baru jadi pejabat sebagai presiden dan wakil presiden. Sedang sebagian penguasa masa kini, menjabat dulu baru dipenjara karena mengikuti nafsu.

Negarawan tidak akan merugikan negaranya untuk kepentingan kelompok atau pribadinya, sedang penguasa berjuang dengan menggunakan segala cara untuk merebut kekuasaan.

Dalam Annual Coperence on Islamic Studies di Pekanbaru sekitar 17 tahun lewat. Hafid Abbas menceritakan tentang kepemimpinan Hatta yang dikutip dari catatan wartawan senior, Rosihan Anwar.

Pada tahun 1952, pemerintah melakukan pemotongan uang 50%, seratus rupiah menjadi 50 Cen. Ketika pemotongan itu diumumkan, protes pertama datang dari Rahmi Hatta, isteri Bung Hatta sendiri. “Kenapa tidak diberitahu lebih dahulu? Bukankah Abang yang memutuskan? Saya telah menabung selama tujuh tahun untuk membeli mesin jahit. Dengan pemotongan itu, uang saya tidak lagi cukup, Akhirnya, saya batal membelinya,” kata Rahmi.

Bung Hatta menjawab singkat, “Adinda Rahmi, kita tidak bisa merugikan negara, untuk kepentingan pribadi.” Pertanyaannya, apa masih ada negarawan seperti Hatta di era kini?■

Wassalam,
Makassar, 17 Agustus 2020


BACA JUGA

Tags: