Makna Tahun Hijriah (2)

Firmansyah Lafiri
Thursday, 20 August 2020 | 23:36 Wita

■ KHAZANAH SEJARAH: Prof Ahmad M Sewang

Cendekia.News — Hasil penelitian penulis, menunjukkan bahwa penduduk pribumi sebelum kolonial masuk ke Nusantara yang dipakai adalah penanggalan Hijriah, bersamaan kedatangan Belanda penanggalan Hijriah surut dan sedikit demi sedikit digantikan penanggalan Masehi yang semakin berpengaruh, sekalipun tidak langsung surut secara bersamaan.

Pada daerah tertentu mulanya terdapat adaptasi atau keduanya digunakan secara paralel, dapat dilihat pada Lontara Bilang yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Belanda yang diberi nama Dag Book atau Catatan Harian Kerajaan Gowa. Di sana tercatat berbagai peristiwa penting di Kerajaan Gowa yang digunakan secara seimbang antara penanggalan Hijriah dan penanggalan Miladiah.

Namun lambat laun penanggalan Hijriah redup, sejalan dengan semakin kokohnya budaya kolonialisme digantikan penanggalan Miladiah. Semakin redup dan menunjukkan dominasinya penanggalan masehi.

Sebagai contoh dapat kita periksa pada diri kita masing-masing dengan menjawab pertanyaan berikut: “Tanggal berapa proklamasi kemerdekaan RI menurut penanggalan Masehi?” Dengan mudah kita mengetahuinya, sebab setiap tahun kita meperingati hari yang bersejarah bagi bangsa kita itu. Tetapi jika ditanyakan, “Tanggal berapa Bangsa kita memproklamirkan kemerdekaan menurut penanggalan Hijriah?” Maka mulailah kita menjadi orang awam, tidak tahu penanggalan dari budaya sendiri.

Pertanyaan berikutnya yang lebih bersifat privat, “Tanggal berapa Anda dilahirkan menurut penanggalan Masehi?” Dengan mudah kita menjawabnya di luar kepala, sebab setiap kali kita berhubungan dengan identitas pribadi, seperti pengambilan akte kelahiran, KTP, SIM, masuk sekolah atau melamar pekerjaan yang harus mencantumkan tanggal kelahiran, bahkan di antara kita ada yang setiap tahun merayakan ulang tahun kelahirannya.

Tetapi jika pertanyaan tersebut diubah, “Tanggal berapa Anda dilahirkan menurut penanggalan Hijriah?” Maka kita mulai diam seribu bahasa, karena memang kita awam dari budaya kita sendiri. Agaknya, inilah di antara lain alasan untuk memperingati tahun baru Hijriah yang dimaksudkan untuk mensosialisasikan penanggalan Islam di tengah-tengah masyarakat Muslim sendiri yang selama ini kehilangan identitas.

Kalender Islam yang didasarkan kepada sistem Qamariyah, mempunyai makna ibadah yang penting, karena hampir semua ibadah wajib dalam Islam, dilaksanakan berdasarkan penanggalan sistem qamariyah, seperti permulaan puasa dilakukan pada tanggal 1 Ramadan; hari raya Idul Fitri dilakukan pada tanggal 1 Syawal; rangkaian ibadah haji disesuaikan dengan penanggalan sistem qamariyah, seperti wukup di Arafah tanggal 9 Zulhijah, pelemparan jamrah dimulai tanggal 10 Zulhijah bersamaan dengan hari raya Idul Kurban.

Pada tanggal itu pula dimulai penyembelihan binatang kurban sampai tanggal 13 Zulhijah. Adapun tanggal Masehi setiap peristiwa di atas, hanya sekedar penyesuaian.

Demikian halnya peringatan hari-hari bersejarah dalam Islam disesuaikan dengan penanggalan sistem Qamariyah, seperti peringatan tahun baru Islam pada setiap 1 Muharram, peringatan Isra dan Mikraj Nabi Muhammad SAW pada tanggal 27 Rajab, peringatan Nuzulul Quran dilaksanakan pada setiap tanggal 17 Ramadan. Jadi, arti penting kalender Islam, karena ia memiliki nilai ibadah, sejarah dan kebudayaan Islam.■

Wassalam,
Makassar, 2 Muharram 2020


BACA JUGA

Tags: