Mengembangkan Pribadi Berkarakter Unggul dan Berjiwa Wirausaha Melaluo Optimalisasi Modalitas Manusia

Firmansyah Lafiri
Monday, 28 September 2020 | 03:23 Wita

Oleh : Prof Dr Muhammad Jufri SPsi MSi MPsi, Psikolog

Cendekia.News — Izinkan saya memulai tulisan singkat ini dengan menyampaikan sebuah kisah kepada sahabat-sahabatku. Sebuah kisah yang akan mengantarkan kita memahami bahwa betapa pentingnya kualitas kepribadian atau karakter unggul dalam membangun kualitas sumber daya manusia atau modalitas manusia kita di tanah air. 

Seorang Ilmuan yang merasa sangat hebat suatu hari ingin berangkat ke sebuah pulau. Didatanginyalah seorang bapak tua pemilik sampan di tepi pantai dan berkata “pak, bawa saya ke pulau sana.” Si pemilik sampan berkata “iya, silahkan bapak naik.” Tidak lama di perjalanan ketika sampan sudah berada di tengah lautan, sang Ilmuan berujar “saya ini telah banyak belajar, bergelar, dan punya segudang pengetahuan.” Melihat sang pengayuh sampan tidak peduli, sang Ilmuan malah bertanya “apakah kamu pernah belajar ilmu Matematika?” ringkas sang pangayuh sampan menjawab “tidak pernah pak, saya hanya pengayuh sampan.” Dengan sombongnya sang Ilmuan menjawab “berarti anda sudah menyianyiakan separuh dari hidup anda.” Kembali lagi si Ilmuan bertanya, “apakah kamu pernah belajar ilmu Fisika?” tetapi hanya dijawab “tidak pernah pak.” Semakin sombong sang Ilmuan menjawab “berarti kamu ini betul-betul punya hidup yang sia-sia.” 

Tiba-tiba di tengah laut sampan bergoyang, ombak meninggi, dan angin bertiup kencang. Sang ilmuan tadi sudah mulai terlihat pucat dan ketakutan. Pada saat itu, tiba-tiba sang Pengayuh sampan berbalik bertanya “apakah bapak tahu yang namanya ilmu berenang?” sang Ilmuan menjawab, “ah itu tidak penting karena saya tahu banyak ilmu yang lain.” Sang Pengayuh sampan dengan suara yang keras bersiap melompat menjawab “kalau begitu bapak akan mati sia-sia, karena sampan ini akan tenggelam.” 

    Cerita tadi menggambarkan bahwa tingginya tingkat pendidikan seseorang tidak lantas menjadikannya manusia dengan kualitas mental yang tinggi pula. Jika pendidikan yang tinggi hanya mengantarkan seseorang untuk merendahkan yang lain maka gagallah proses pembentukkan mental atau karakter selama di bangku pendidikan. Padahal tugas utama pendidikan pada setiap level bukan hanya mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi mentransfer nilai-nilai. Seyogyanya, pendidikan dapat mengantarkan kita untuk menjadi manusia yang lebih berkualitas dengan mental paripurna utamanya di ‘zaman milenial’ ini sehingga membawa bangsa Indonesia menjadi bangsa yang kuat, bermartabat, dan berkepribadian unggul baik di mata nasional maupun global. 

    Pertanyaan terpenting mengenai topik ini adalah “bagaimana kualitas modalitas manusia Indonesia bisa semakin baik?” Inilah pertanyaan yang telah menggiring berbagai kebijakan lintas sektor dan zaman. Para penggagas Negeri ini sejak dulu sangat menekankan kualitas modalitas manusia seperti ungkapan Presiden RI pertama “beri aku sepuluh pemuda maka akan kuguncang dunia.” Sejak dahulu mereka percaya bahwa dengan membentuk mental atau karakter unggul, bangsa kita hanya perlu sepuluh pemuda untuk mengguncang dunia.

Tidak sampai disitu saja, Bapak Presiden Joko Widodo dan Wakilnya Bapak Muhammad Jusuf Kalla menjadikan “revolusi mental” sebagai titik sentral perubahan Indonesia menuju bangsa yang kuat, mandiri, hebat, berdaya saing, dan berkepribadian, serta berjiwa wirausaha. Hal ini akan semakin diperkuat pada periode kedua kepemimpinan Presiden Joko Widodo bersama KH.Ma’ruf Amin melalui kabinet Indonesia Maju.

    Marilah kita bersama kembali meninjau bagaimana kualitas mental atau karakter ini terbentuk hingga akhirnya membangun modalitas manusia yang berkualitas. Agar dapat lebih terarah dalam mengkaji secara ilmiah, maka pendekatan sebuah bidang ilmu sangat diperlukan. Oleh karena itu, Psikologi sebagai disiplin ilmu pengetahuan layak menjadi alat yang mengarahkan kita memahami proses mental hingga terbangunlah sumber daya manusia yang berkualitas. 

    Tahap pertama yang perlu kita bangun adalah pemahaman mengenai kualitas modalitas manusia atau sumber daya manusia. Selanjutnya, kita perlu memahami bagaimana modalitas manusia dapat menjadi sumber penggerak lahirnya pribadi unggul dan berjiwa wirausaha di berbagai aspek kehidupan. Pembentukan mental yang dimulai dari keluarga, lembaga-lembaga pendidikan, hingga ke jenjang organisasi pemerintahan sangat diharapkan. Seluruhnya secara sistematis bergerak membentuk mental yang diharapkan dan berkontribusi positif bagi Sumber Daya Manusia di Indonesia. 

Kualitas Modalitas Manusia 

    Kata “Human Resource Management” atau manajemen sumber daya manusia jika dituliskan di mesin pencari Google  saat ini maka dapat ditemukan kurang lebih 284 juta tautan yang membahas ini dan empat juta diantaranya adalah artikel ilmiah. Ditambah lagi, berdasarkan sudut pandang ilmiah, semakin banyak jurnal ilmiah yang diterbitkan berfokus pada bidang ini. Selain itu, bidang-bidang ilmu yang seringkali dikaitkan erat dengan lingkup sumber daya manusia diantaranya Psikologi, Manajemen, Bisnis, Pendidikan, dan masih banyak lagi. 

    Para ahli perilaku organisasi seperti Cascio, Aguinis, Armstrong dan Taylor mendefinisikan Manajemen Sumber Daya manusia sebagai usaha sistematis dalam mengelola Human Capital yang dimulai dari merekrut hingga mengembangkan seluruh aspek yang dibutuhkan dalam mencapai tujuan organisasi. Tentunya, untuk dapat menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas maka diperlukan rencana yang sistematis, terarah, terencana dan terukur agar upaya yang dilakukan menghasilkan dampak sesuai rencana. Lebih daripada itu, seluruh rencana besar ini tidak hanya dimulai dan berhenti di tingkat organisasi saja tetapi harus berlanjut berbagai lini kehidupan kita. 

    Perubahan sumberdaya manusia Indonesia tentunya semakin hari semakin membaik, tetapi pengembangan modalitas manusia tetap harus digelindingkan karena hingga saat ini kita masih tetap disugukan dengan fakta-fakta yang sering membuat kita gelisah. Coba saja bayangkan, di tengah-tengah maraknya prestasi putra-putri bangsa kita, ternyata masih banyak perilaku-perilaku menyimpang seperti korupsi, konflik antar kelompok, penyalahgunaan obat, tindakan kekerasan, bahkan juga ‘begal politik’ (yang belakangan ini marak terjadi setiap menjelang Pilkada serentak). Hal ini mencerminkan kualitas mentalitas yang buruk seakan tidak tersentuh pendidikan. Padahal, jumlah pendidik kita tidak sedikit, pemegang gelar sarjana, magister hingga doktor semakin bertambah, dan semakin canggih pula sistem dan teknologi pendidikan yang ada, tetapi kenapa pelanggaran hukum, korupsi, kriminalitas, dan kecurangan juga semakin marak. 

Karakter Pribadi Unggul dan Jiwa Wirausaha

    Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, pentingnya sumber daya manusia yang berkualitas telah lama dititik beratkan oleh para pendiri bangsa ini. Upaya untuk semakin memperbaiki kualitas mental manusia-manusia Indonesia telah lama dimulai. Para pendahulu kita sadar betapa pentingnya karakter pribadi yang unggul bagi sumber daya manusia. Hingga hari ini, di pemerintahan Presiden RI Joko Widodo revolusi mental ini kembali menggema. 

    Ada semangat dibalik revolusi mental, semangat untuk menghadirkan pribadi baru dan terbarukan untuk Indonesia. Cita-cita yang diharapkan adalah lahirnya sumber daya manusia yang dapat mendukung perubahan ke arah yang lebih baik, unggul dan terdepan dalam pembangunan ekonomi. Namun, untuk dapat menuju kesana revolusi mental tidak dapat hanya berhenti pada perdebatan para politisi atau tertulis di atas kertas saja tetapi perlu ada aksi nyata yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat terutama kita para generasi-generasi cerdas Indonesia. 

    Jika ditinjau dari sudut pandang science maka, istilah revolusi mental ini mungkin adalah hal baru, jarang terkaji secara ilmiah bahkan masih sangat kurang artikel-artikel ilmiah yang melibatkan istilah ini. Tetapi ide dasar dari revolusi mental sendiri adalah keinginan untuk merubah mental masyarakat Indonesia menuju arah yang lebih baik. Perubahan mental ke arah yang lebih positif dan meninggalkan segala bentuk perilaku dan sikap mental negatif merupakan semangat dibalik revolusi mental. Ini sesuai dengan ide-ide revolusi mental di laman Gerakan Nasional Revolusi Mental (http://revolusimental.go.id/). 

    Selain itu, sebagai bangsa besar yang cerdas dan berwawasan kemajuan, memontum keberhasilan pembangunan ekonomi yang telah menjadikan negeri kita sebagai salah satu kekuatan ekonomi terbesar di dunia, harus kita pelihara dan kita tumbuhkembangkan. Dalam upaya pemeliharaan momentum pertumbuhan ekonomi itu, pengembangan jiwa kewirausahaan menempati peran yang sangat strategis dan makin signifikan. Pengembangan kewirausahaan memfasilitasi digulirkannya kegiatan-kegiatan ekonomi produktif, yang mendukung peningkatan pertumbuhan ekonomi. Pengembangan Kewirausahaan juga memfasilitasi dicetuskannya berbagai kreasi dan inovasi yang meningkatkan daya saing, guna menjamin keberlanjutan peningkatan pertumbuhan ekonomi. Pada lingkup yang lebih luas, pengembangan kewirausahaan juga menyemai karakter positif bagi warga bangsa antara lain mentalitas kemandirian, semangat bekerjasama, dan semangat berkompetisi untuk meraih kemajuan, serta berbagai karakter positif lainnya yang insha Allah dapat dikontribusikan pada peningkatan kinerja pembangunan ekonomi dan berbagai ranah pembangunan lainnya.

    Untuk bisa menjadi seorang interpreneurship yang berhasil, seorang wirausaha perlu mempunyai modal dasar seperti kemauan bekerja keras, semangat juang tinggi, kecerdasan, kesabaran, wawasan bisnis yang luas, ketajaman melihat peluang dan memenangkannya, dan tahan banting dalam menghadapi situasi yang sulit. Wirausaha yang sukses zaman now adalah mereka yang tidak terlalu sering meminta bantuan atau perlindungan pemerintah. Untuk itu seorang wirausahawan haruslah kreatif, inovatif, risk taking, dan berdaya saing. Karakteristik lainnya menurut Joewono (2012: 11), tidak pernah ‘tega’ membiarkan kesempatan bisnis berlalu begitu saja (opportunity Seeker), super dalam bergaul dan menjadi jembatan terjadinya kesepakatan (Network Builder), bias memimpin tim untuk menjalankan kepentingan usahanya (Conductor), pekerja keras tidak kenal lelah untuk memperjuangkan kepentingan bisnisnya (Hard Worker), dan pribadi yang selalu mendambakan kemajuan atau tidak merasa cukup dengan telah dicapai (Progress Demander).

Modalitas Manusia

    Istilah modalitas manusia  adalah terjemahan dari istilah dalam bidang ilmu sumber daya manusia yang disebut dengan istilah human capital. Modal manusia ini  adalah seperangkat kompetensi lunak (soft competency) dan kompetensi fisikal yang harus dimiliki seorang manusia dalam bekerja agar dia sukses dalam pekerjaannya. Apakah ia sebagai seorang pemimpin, sebagai pengikut atau sebagai guru memerlukan sejumlah kompetensi lunak ini sesuai tuntutan tugas yang ia pegang,

    Ada sejumlah komponen modal manusia yang diperlukan dalam mengembangkan pribadi berkarakter unggul dan berjiwa wirausaha, yaitu modal intelektual, modal emosional, modal social, modal ketabahan, modal etika/moral, dan modal kesehatan.

    Modal Intelektual, adalah perangkat yang diperlukan untuk menemukan peluang dan mengelola ancaman dalam kehidupan. Berbagai organisasi yang unggul dan meraih banyak keberhasilan adalah organisasi yang terus menerus mengembangkan sumber daya manusianya. Sekolah yang memiliki guru-guru yang selalu mengembangkan diri secara proaktif dan inovatif dalam hal pengetahuan yang dapat terus eksis diantara persaingan yang semakin ketat. Perubahan yang supercepat seperti saat ini menuntut peran guru untuk terus mempertajam pengetahuannya sehingga dapat beradaptasi dengan kondisi perubahan lingkungan yang bergerak sangat cepat, tidak menentu dan sulit diprediksi.

    Modal Emosional, berkaitan dengan kemampuan untuk mengenal dan mengelola emosi diri sendiri, serta memahami emosi orang lain agar ia dapat mengambil tindakan yang sesuai dalam berinteraksi dengan orang lain. Daniel Goleman (1996) menyebutnya Emotional Intelligence. Orang yang memiliki modal emosional yang tinggi akan selalu memiliki sikap positif di dalam menjalani kehidupan. Ia memiliki pikiran positif di dalam menilai sebuah fenomena kehidupan betapapun buruknya fenomena tersebut di mata orang lain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modal emosional lebih menentukan kesuksesan hidup seseorang dibandingkan dengan modal intelektual (IQ). Hal ini sesuai dengan ajaran Islam agar orang bersifat sabar dan lebih baik diam kalau tidak bias memilih kata-kata yang baik.

    Modal sosial, dimaknai sebagai serangkaian nilai-nilai atau norma-norma informal yang dimiliki bersama diantara para anggota suatu kelompok masyarakat yang memungkinkan terjalinnya kerjasama diantara mereka. Modal ini sangat penting karena dapat memadukan beberapa individu yang memiliki modal intelektual berbeda sehingga bias melahirkan sebuah karya yang spektakuler. Tanpa modal sosial, orang-orang akan cenderung bekerja sendiri-sendiri sehingga karyanya bernilai rendah bahkan mungkin saling menjatuhkan. Jadi kolaborasi dan menghargai dalam perbedaan akan menghasilkan sebuah harmoni dan dinamika yang sangat produktif layaknya sebuah permainan gamelang atau orkes. Kolaborasi dalam perbedaan akan memberikan kebaikan bersama. Seorang wirausahawan dengan prinsip seperti ini dijamin akan meraut keuntungan berkelimpahan.

    Modal ketabahan, berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk survival di dalam menghadapi kesulitan, atau problem yang belum terpecahkan. Modal ini akan memberikan spirit seseorang dapat bertahan jika dihadapkan pada risiko pekerjaan yang sulit dihindari. Stoltz (1997) membedakan tiga tipe manusia dalam menghadapi kesulitan, yaitu: 1) tipe Quitter; manusia yang mudah menyerah bila berhadapan dengan masalah dan memilih untuk melarikan diri dari masalah tersebut, 2) Camper; orangnya mau berusaha menghadapi masalah tetapi tidak sepenuh hati, jika sudah mencoba tetapi gagal maka cenderung beralih ke tempat lain, dan         3) Climber; orang yang pantang menyerah sesulit apapun situasi dan masalah yang dihadapi. Orang tipe ini ingin selalu menyelesaikan pekerjaan dengan tuntas dengan berpegang teguh pada sebuah prinsip etika. Baginya proses sangat penting untuk hasil yang maksimal. Prinsipnya         “Hasil tidak akan menghianati proses”.

    Modal Moral, banyak penelitian menunjukkan bahwa kinerja sesuah organisasi termasuk individu di dalamnya sangat ditentukan sejauhmana organisasi atau orang itu berpegang pada prinsip etika dalam melakukan tugas-tugasnya. Yayasan, Sekolah dan guru serta profesi apapun yang selalu berpegang pada prinsip etika akan memiliki citra yang positif dan makin diminati banyak pelanggan. Modal moral ini dibangun oleh 4 komponen, yaitu: integritas, bertanggung jawab, bersikap penyayang, dan pemaaf. Modal moral akan mampu mengantarkan pemiliknya menemukan kebermaknaan dalam kerja dan hidupnya.

    Modal Kesehatan, berkaitan dengan kualitas kesehatan fisik dan psikhis seseorang. Badan yang tidak sehat akan membuat semua modal di atas tidak bias maksimal. Stephen Covey (1990) dalam bukunya Seven Habits of Highly Efective People mengatakan bahwa kesehatan adalah bagian dari kehidupan yang harus selalu dijaga dan ditingkatkan kualitasnya sebagai pendukung manusia yang efektif.

Menuju Indonesia Berkarakter Unggul

    Kita bersama telah menyimak bagaimana peran bidang ilmu Psikologi untuk mendukung pembangunan SDM atau modalitas manusia. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa Negara-negara besar sangat memperhatikan aspek Psikologi hingga seluruh proses perencanaan dan pengembangan SDM masyarakatnya melibatkan penerapan ilmu dan teori Psikologi. Amerika Serikat, Inggris dan Jerman merupakan Negara-negara yang telah lama mempelajari dan mengembangkan ilmu Psikologi. Saat ini, negara-negara  tersebut merupakan kekuatan penting di banyak sektor. Kita tidak kalah hebat dengan mereka, kita punya para juara-juara olimpiade di hampir semua bidang dan kita bangga dengan para ilmuan kita yang bekerja dan dipercaya di berbagai Negara. 

    Sayangnya masih banyak diantara kita, para generasi bangsa yang kurang memiliki mental yang berkualitas. Jika memang kita memiliki mental yang unggul, seharusnya kita mengutamakan:

  1. Membangun mental terdidik bukan hanya menambah gelar pendidikan
  2. Mengoptimalkan potensi diri bukan hanya sibuk berbicara prestasi
  3. Proses belajar yang berkesinambungan dan berkelanjutan bukan hanya mengejar gelar
  4. Terus menciptakan karya bukan sibuk mengeluhkan keterbatasan
  5. Membangun harapan positif bukan menyesali kekurangan
  6. Membangun mental juara bukan meratapi setiap kegagalan

Itu semua hanya segelintir kecil refleksi dari mental yang telah berevolusi. Jika telah terbentuk mental yang unggul maka cita-cita Indonesia unggul dari berbagai penjuru dan sektor bukan hambatan lagi. Indonesia adalah bangsa yang besar dengan kekayaan yang melimpah ruah di dalamnya. Namun, “kemiskinan” mental membuat kita menjadi terpuruk di berbagai bidang hingga sulit bersaing di tingkat global. 

Disinilah titik dimana kita harus memulai melakukan perubahan. Tidak ada hari yang baik selain hari ini dan tidak ada waktu yang baik selain saat ini. Revolusi mental yang kita harapkan siap untuk dilaksanakan dengan dukungan dari berbagai pihak. Ilmu dan Praktik Psikologi adalah perangkat yang dapat dimanfaatkan, siap untuk kita gunakan serta dapat kita kembangkan. 

    Revolusi ini dapat dimulai di sektor Pendidikan dengan menanamkan nilai-nilai manusia terdidik sejak dini dan ini terus berlanjut hingga ke tingkat perguruan tinggi. Pembentukan karakter unggul juga harus dilakukan di dalam keluarga dimana setiap elemen keluarga mengajarkan mengenai etika, sikap dan perilaku unggul sebagai sebuah unit masyarakat. Di organisasi dan instansi pemerintahan tentunya perlu untuk mengolah dan mengembangkan karakter-karakter unggul dan jiwa wirausaha untuk memajukan efektivitas dan produktivitas kerja.     Bagaimana seluruh ini dapat terwujud? Ini telah tergambar sebelumnya. Ilmu Psikologi dan ikhtiar pengembangan karakter merupakan dua bagian yang tidak terpisahkan. Pembentukan karakter unggul dan terbarukan harus memanfaatkan ilmu mental yakni Psikologi. 

    Sebagai masyarakat intelektual yang cerdas dan ahli di bidangnya, kita dapat mempelajari dan paham begitu banyak konsep dan teori tetapi belum tentu memiliki mental sebagai ahli. Pembentukan mental sebagai pribadi mandiri, unggul dan berkarakter kita dapat mulai dengan memanfaatkan Psikologi sebagai science and practice. Perkembangan Ilmu Psikologi saat ini telah mengantarkan banyak Negara-negara maju menuju keberhasilan di berbagai sektor. Indonesia juga sedang berbenah menuju kesana sehingga dukungan Psikologi sangat menunjang proses pembentukan karakter bangsa sesuai cita-cita dan harapan kita bersama. Karena itu, sangat tepat jika Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Kabinet Indonesia Maju 2019 bapak Nadiem Makarim menjadikan Psikologi sebagai salah satu disiplin ilmu yang harus diperkuat pada proses pembelajaran kita pada semua level pendidikan selain statistika, nano teknologi, big data, dan bidang sains lainnya.

Menutup tulisan ini saya titipkan pesan singkat untuk siapa saja yang telah menerima gelar kesarjanaan, Magister, doktoral bahwa anda telah menyelesaikan jenjang pendidikan, selembar kertas yang kita sebut ijazah menjadi bukti. Tetapi perlu diingat, kertas ijazah itu bernilai karena proses pendidikan yang kita lalui. Mari kita buktikan bahwa kita lebih unggul dari sekedar nilai-nilai yang tercantum di atas lembaran kertas. Negeri ini butuh mental seorang ilmuan dan praktisi bukan sekedar tulisan “sarjana, Magister atau Doktor” di atas kertas, negeri ini berharap karakter seorang ilmuan sejati bukan hanya di saat wisuda/Promosi tetapi di hari-hari selanjutnya, dan negeri ini menunggu karya kita yang terbaik dan bermakna bukan hanya gelar di depan atau di belakang nama. 

Semoga kebahagian dan kebanggaan berprestasi di hari ini tetap menyemangati kita untuk berjuang dan berkarya demi masa depan Indonesia yang lebih baik. ■

*) Guru Besar bidang Psikologi Industri dan Organisasi, Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar


BACA JUGA