Tingkatkan Kemampuan Berbahasa Inggris Siswa di Sulsel dengan Pembelajaran Model Blended Learning

Firmansyah Lafiri
Monday, 28 September 2020 | 03:07 Wita

■ Oleh : Prof Dr Nurdin Noni MPd

Cendekia.News — Penguasaan bahasa Inggris sebagai bahasa asing utama semakin penting seiring meningkatnya kebutuhan penggunaan bahasa Inggris dalam berbagai bidang, misalnya ekonomi, sosial, budaya, politik, teknologi, pariwisata, dan pendidikan. Pada era globalisasi saat ini, bahasa Inggris bahkan menjadi bahasa resmi yang digunakan untuk tujuan kerja sama antar bangsa. 

Penguasaan bahasa Inggris sebagai bahasa internasional paling luas jangkauan penggunaanya di dunia.  Sehingga menjadi salah satu faktor yang dapat meningkatkan daya saing global sumber daya manusia. Oleh karena itu, generasi muda perlu dibekali keterampilan berbahasa Inggris secara memadai. 

Banyak upaya yang telah dilakukan, misalnya dengan memasukkan mata pelajaran bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib dalam kurikulum sekolah menengah dan perguruan tinggi. Bahkan, di tingkat SD, banyak sekolah yang menjadikan bahasa Inggris sebagai mata pelajaran muatan lokal. 

Selain itu, tidak sedikit individu yang berusaha meningkatkan kemampuan bahasa Inggrisnya di lembaga-lembaga kursus. Namun, hasil belajar yang diperoleh tidak mampu membuat anak didik untuk memiliki kemampuan dan keterampilan berbahasa Inggris yang memadai. Memadai dalam hal untuk dapat berkomunikasi secara aktif dan sering tidak memenuhi tingkat kemahiran yang dipersyaratkan, seperti untuk lanjut studi ke luar negeri atau berkompetisi merebut peluang kerja di perusahaan multinasional atau luar negeri. 

Salah satu penyebabnya adalah keterbatasan waktu siswa/mahasiswa untuk berinteraksi dalam bahasa Inggris baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Padahal, salah satu kunci keberhasilan belajar bahasa asing, termasuk bahasa Inggris adalah keseringan siswa memperoleh pajangan bahasa sasaran yang dipelajarinya dan banyaknya peluang untuk melatih-mahirkan keterampilan bahasa tersebut secara berulang kali. 

Kehadiran teknologi digital dan internet dengan kemampuan multimedia yang memadai seharusnya bisa menjadi solusi atas permasalahan-permasalahan yang disebutkan di atas. Beberapa penelitian yang berkaitan dengan pembelajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing menunjukkan bahwa penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dapat meningkatkan motivasi dan minat belajar, mengatasi permasalahan keterbatasan waktu, menghadirkan sumber belajar otentik dan beragam, membuat pembelajaran lebih efektif, dan bahkan meningkatkan keterampilan dan kecakapan berbahasa Inggris pembelajar (Khan, 2015; Kobayashi dan Little, 2011 dan Noni, 2018). 

Penggunaan TIK dalam mendukung pembelajaran sering disebut dengan istilah ‘blended learning’, yang merupakan metode pembelajaran yang mengombinasikan dan memadusuaikan antara pembelajaran tatap muka (face-to-face) dan e-learning atau pembelajaran berbantuan TIK dan daring (Noni, 2019). Dalam konteks pembelajaran bahasa asing, istilah yang lazim digunakan adalah CALL (computer assisted language learning).  

Pemanfaatan TIK dengan berbagai aplikasi dan konten yang melimpah dapat memberi peluang yang lebih banyak kepada pembelajar untuk melatih-mahirkan keterampilan berbahasa Inggris sesuai tujuan yang ingin dicapai. Oleh sebab itu, guru bahasa Inggris di Sulawesi Selatan (Sulsel) seharusnya mampu menerapkan pendekatan ‘blended learning’ tersebut untuk menfasilitasi anak didiknya untuk memperoleh sumber belajar yang memadai dan mempraktekkan keterampilan bahasa Inggris secara intensif.

Model ‘blended learning’ bervariasi sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik siswa, perangkat TIK yang dimiliki sekolah, guru, dan siswa, dan kebijakan pemerintah/sekolah. Ada beberapa kelebihan ‘blended learning’ dalam pembelajaran bahasa Inggris, antara lain: (i) materi otentik cukup banyak tersedia secara daring, baik dalam bentuk teks, audio, video, maupun animasi, (ii) membangun kemandirian siswa/mahasiswa dalam belajar, (iii) fleksibilitas dalam belajar dan menyelesaikan tugas di mana saja atau kapan saja,  (iv) siswa/mahasiswa memiliki peluang untuk meningkatkan semua keterampilan dan unsur bahasa yang dipelajari, (v) memudahkan guru untuk menfasilitasi siswa memiliki keterampilan abad ke-21 yang dikenal dengan istilah 4C (critical thinking, creativity, collaboration, dan communication), dan (vi) kegiatan yang ditawarkan lebih menarik dan menantang yang dapat membuat siswa betah belajar dan mempraktekkan bahasa Inggris. 

Yang terpenting bagi para tenaga pengajar bahasa Inggris daerah inu adalah mereka harus memiliki kemelekan TIK yang relevan dengan tugas-tugas mengajarnya. Mereka juga seyogyanya mempertimbangkan media teknologi yang digemari atau digandrungi oleh para siswa/mahasiswa, seperti smartphone, laptop, iPad, Facebook, Instagram, blog, WhatsApp, dan YouTube. 

Selain itu, mereka tentu harus memiliki kreativitas dan gagasan pedagogik yang dapat menciptakan pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, menyenangkan, dan bermakna. Tugas mereka selanjutnya adalah bagaimana mengemas konten pembelajaran dalam perangkat lunak atau aplikasi sehingga akan menjadi paket pembelajaran yang memberi peluang lebih banyak kepada siswa/mahasiswa untuk meningkatkan keterampilan berbahasa Inggris mereka. 

Dengan demikian, waktu siswa di luar sekolah akan tersita dengan kegiatan belajar dan berlatih menggunakan bahasa Inggris. Selama ini, banyak orang tua yang khawatir karena anaknya lebih banyak menggunakan gawainya, seperti smartphone, untuk bermain game. Lebih menghawatirkan lagi apabila game yang dimainkan adalah game yang memiliki dampak kecanduan yang tinggi yang dapat membawa pengaruh psikologis yang buruk, seperti stress. Bahkan tidak sedikit yang berakibat lebih fatal. 

Bertitik tolak pada keunggulan model ‘blended learning’ dan masalah yang diungkapkan di atas, para pemangku kepentingan pendidikan, termasuk guru-guru bahasa Inggris si Sulsel perlu mengambil langkah strategis yang dapat menjadi alternatif solusi yang kongkrit. 

Model ‘blended learning’ mungkin bisa menjadi jawaban yang dapat dipertimbangkan untuk mengatasi keterbatasan dan sekaligus mendorong pencapaian tujuan pembelajaran bahasa Inggris yang lebih baik. Penulis yakin bahwa penerapan model ini akan memberi peluang yang lebih banyak kepada siswa di luar jam sekolah untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris mereka. 

Tapi perlu dicatat bahwa penyajian materi haruslah dibuat semenarik mungkin, kalau perlu sama daya tariknya dengan game yang sering dimainkan oleh para siswa. Sungguh banyak aplikasi pembelajaran yang tersedia di internet yang bisa digunakan oleh guru untuk mengembangkan bahan ajar dan latihan-latihan pemahiran bahasa Inggris yang bisa dalam bentuk game, penyajian materi dalam berbagai modus, kuis daring dan luring, dan LMS (learning management system). Dengan begitu, siswa akan sibuk untuk belajar dan mengerjakan latihan-latihan bahasa Inggris, sehingga sebagian waktu siswa tidak lagi hanya tersita untuk bermain game atau ber-medsos ria. 

Oleh karena itu, penulis menyarankan agar ICMI ORWIL Sulawesi Selatan dapat mengambil bagian dengan membuat pilot project pada sekolah tertentu di Kota Makassar yang nantinya dapat diadopsi dan dijadikan kebijakan pada level kabupaten/kota atau bahkan Propinsi Sulawesi Selatan. Bahkan tidak menutup kemungkinan akan menjadi kebijakan nasional kalau uji coba ini berhasil.(*/fir)

*) Ketua Divisi Pendidikan dan Pengembangan SDM, ICMI Orwil Sulsel periode 2016-2021.


BACA JUGA