Terimalah Kebenaran Itu Dari Mana Pun Datangnya

Firmansyah Lafiri
Thursday, 08 October 2020 | 05:52 Wita

■ Oleh : Prof Ahmad M. Sewang

Cendekia.News — Tema ini berasal dari sebuah riwayat. Malah kebenaran atau ilmu pengetahuan harus diterima dari musuh sekalipun. Dalam sebuah hadis disebutkan,

الحكمة ضالة المؤمن؛ فاطلبوها – ولو عند المشرك –

Hikmah (ilmu pengetahuan) adalah barang yang hilang di tangan kaum mukmin, maka tuntutlah walau berada di tangan kaum musyrik.

Di dunia perguruan tinggi para ilmuwan sudah biasa mengutip pendapat dari mana saja, jika dianggap benar dan relevan dengan objek bahasan. Kita sering mendengar kutipan secara objektif dari mana pun pendapat itu asalnya.

Di dunia pesantren sudah mulai ditanamkan yang dipelopori almarhum K.H. Abdurrahman Wahid yang sering disapa Gusdur. Beliau berkata, “Kebenaran bisa diperoleh dari mana saja. Ibaratnya barang yang bermanfaat harus dipungut sekalipun dari panta ayam asal berwujud telur,” kata Gusdur.

Berdasarkan pengembaraan studi dan pengalaman membaca, juga berpedoman pada wasiat Nabi di atas, maka saya tidak pernah ragu sedikit pun menerima dan mengutip pendapat dari siapa pun, jika itu dianggap benar dan relevan.

Sebaliknya, jika dianggap tidak relevan harus berani menanggalkannya. Syeikh al-Qardawi berkata, “Pendapatku sendiri jika salah harus berani mengoreksinya, sehingga terhindar dari penyakit fanatisme.”

Sedang Imam Syafii yang paling banyak pengikutnya di Nusantara berkata tegas,

والله ماابالى ان يذهر الحق على لسانى او على لسان خصمى

(Demi Allah! Aku tidak peduli, dari mana pun kebenaran itu muncul, apakah dari lisanku atau lisan lawanku).
Artinya, pendapatnya sendiri bisa diabaikan, jika ada pendapat yang lebih benar dari lawan sekalipun.

Beda dengan sebagian umat yang masih terprangkap pendapat kelompok. Suatu ketika dalam sebuah pertemuan, saya mengutip pendapat Dr. Firanda Andirja Abidin, MA.,alumni Universitas Madinah. Dia satu-satunya orang Indonesia yang dipercaya pemerintah kerajaan Saudi memberi pengajian dalam bahasa Indonesia di Masjid Madinah.

Pengajiannya saya sempat ikuti dan saya kutip pendapatnya dalam sebuah perhelatan Halakah. Saya dapat teguran dari teman. Alasannya, karena ia bermazhab Wahabi. Saya hanya menjawab dalam hati, “Dari mana pun pendapat itu jika benar, harus diterima. Apalagi sesama muslim.

Pengalaman di atas sengaja di-sharing untuk membuktikan bahwa pada tempat tertentu masih terdapat kecurigaan sesama muslim sendiri hanya karena beda mazhab. Sehingga memunculkan tanya, kapan umat bisa bersatu jika pendapatnya saja tidak bisa dikutip?

Lagi pula pendapatnya tidak sedikit pun mengandung permusuhan. Sebaliknya, kita pun patut bersyukur karena di universitas tidak lagi pernah memasalahkan jika mungutip pendapat di luar Islam, seperti Plato, Soctates, dan Agustinus. .

Tulisan ini sekaligus menjawab pertanyaan yang menyayangkan karena saya mengutip pendapat Ir. Soekarno, presiden pertama RI. Sekali lagi, saya tidak ragu mengutip pendapat beliau walau saya bukan seorang Soekarnois karena saya menganggapnya benar dan relevan.

Saya pun tahu Ir Soekarno sebagai manusia biasa, pasti memiliki kelebihan dan kekurangan sekaligus. Beliau pernah bermesraan dengan Nasakom dan mulai lupa diri dan otoriter setelah diperlakukannya Demokrasi Terpimpin.

Banyak ulama mengingatkannya, tetapi tidak digubrisnya. Bahkan siapa yang tidak setuju kebijakannya justru dijebloskan ke dalam penjara, seperti Buya Hamka, termasuk H. Fadli Luran dari Sulawesi Selatan dan banyak ulama lainnya.

Tulisan ini diakhiri dengan satu kata mutiara. Perbedaan seorang politisi dan ilmuwan/ulama. “Seorang politisi sulit mengakui kebenaran yang berasal dari lawan politiknya. Sedang ilmuwan tidak ragu mengakui kelemahannya walau datang dari dirinya sendiri.”■

Wassalam,
Makassar, 8 Oktober 2020


BACA JUGA