Coremap-CTI ADB Latih Rehabilitasi Mangrove Masyarakat Poto Tano Sumbawa Barat

Firmansyah Lafiri
Thursday, 17 June 2021 | 03:36 Wita

■ Penyelamatan Terumbu Karang melalui Program COREMAP CTI di Sumbawa NTB (4)

Cendekia.News — Hutan mangrove atau hutan bakau memiliki fungsi yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat terutama masyarakat pesisir dan pulau-pulai kecil, antara lain sebagai sumber mata pencaharian bagi masyarakat, karena menghasilkan berbagai produk bernilai ekonomi terutama sebagai penghasil produk kayu, ikan, kerang, kepiting dan lain-lain serta dapat dijadikan sebagai kawasan wisata alam maupun untuk pendidikan.

Di beberapa daerah, peranan ini berkurang, akibat kerusakan ekosistem mangrove dan menurunnya kualitas lingkungan pesisir.

Mangrove merupakan salah satu bentuk ekosistem hutan yang unik dan khas serta terdapat pada daerah pasang surut di wilayah pesisir, pantai, dan atau pulau-pulau kecil. Ini merupakan potensi sumber daya alam yang sangat potensial.

Hutan mangrove memiliki nilai ekonomi dan ekologis yang sangat tinggi, tetapi sangat rentan terhadap kerusakan apabila kurang bijaksana dalam mengelola dan melestarikannya.

Lestarinya mangrove sangat tergantung pada peran masyarakat untuk menjaga dan aktif mengembangkannya, sehingga mendapat manfaat yang lebih optimal dan berkelanjutan.

Sehubungan dengan itu, maka masyarakat perlu diberi pengetahuan dan keterampilan tentang rehabilitasi dan pengelolaan mangrove, mulai dari pengenalan biologi mangrove, fungsinya, pengelolaannya, pemanfaatannya dan rehabilitasinya.

Selain itu, Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat juga menyampaikan Arah dan Kebijakan Pemda Dalam Pelestaruan Ekosistem Mangrove.

PT. Sucofindo (Persero) yang menjadi pelaksana Paket 6 Coremap CTI-ADB bekerjasama dengan Yayasan Olah Hidup (LOH) Sumbawa, melaksanakan Pelatihan dan Praktek selama 2 hari, yang diikuti oleh perwakilan masyarakat dari 4 desa, yaitu Desa Poto Tano, Senayan, Tuananga dan Kiantar, 30 % dari peserta pelatihan adalah perempuan.

Funding Kegiatan adalah Asian Development Bank (ADB) melalui Bappenas, yang diampingi oleh ICCTF sebagai Kelompok Kerja, sebagai Mitra Pelaksana adalah PT. Sucofindo (Persero). PT. Sucofindo sudah beberapa kali mendapat kepercayaan kegiatan Coremap, sejak Coremap II di Pangkep dan Coremap CTI.

Hasil survey awal yang telah dilakukan pada Maret 2021 menunjukkan bahwa kondisi mangrove di Gili Balu relatif bagus, walaupun ada beberapa yang perlu direstorasi, agar lebih baik dan dapat dimanfaatkan dengan lebih optimal, selain itu kerjasama dan peran serta masyarakat yang lebih tinggi dan maksimal sangat dibutuhkan.

Jumlah bibit mangrove yang akan ditanam sekitar 25.000. Persiapan bibit, penanaman dan pemeliharaan akan melibatkan masyarakat setempat.

Hadir dalam pelatihan antara lain Ketua Forum Pokmaswas Syarifuddin Aris, Polsus PWP3K Sumbawa Barat Arif Hasyim, S.Pi, perwakilan CDK Hary Ramdhani, S.Pi, Side Koordinator Lalu Alid dan Hardawiansyah, S.Pi sebagai Penyuluh Perikanan.

Pertemuan dipimpin oleh Dr. Ir. Edward Danakusumah, M.Sc selaku Ketua Tim, Dr. Ir. Andi Tamsil, MS, IPM., Dr. Ir. Ihsan, MS., dan Dr. Ismudi Muchsin, M.Sc masing-masing sebagai Tenaga Ahli dan Tim Manajemen Hery Setiawan dan Dhimas Dahniar.

Pelatihan dibuka oleh Kadis Perikanan Sumbawa Barat diwakili oleh Kepala Bidang Perikanan Iwan Irawan, S.Pt, M.Si. Ia menyampaikan, walaupun kewenangan pengelolaan pesisir dan pulau-pulau kecil tidak lagi menjadi kewenangan Pemerintah Kabupaten/Kota, akan tetapi pendampingan dan pembinaan tetap dilakukan sesuai kewenangan yang ada, karena masyarakat pesisir menjadi masyarakatnya Kabupatan Sumbawa Barat.

Iwan berharap masyarakat menjaga ekosistem dengan baik. Selain Mangrove, diharapkan juga memperhatikan Padang Lamun dan ekosistem terumbu karang yang juga sangat potensial.

Setelah pelatihan di kelas, akan dilanjutkan dengan praktek lapang di Pulau-Pulau Gili Balu.■ rls


BACA JUGA

Tags: