Awal Perpecahan Ummat dan Dampaknya

Firmansyah Lafiri
Monday, 28 June 2021 | 01:37 Wita

KHAZANAH SEJARAH: Ahmad M. Sewang

Cendekia.News — Segera setelah wafatnya Nabi shallallahu alahi wa shallam pada 2 Rabiul Awal 11 H. Muncullah benih-benih perbedaan tentang siapa pengganti Nabi sebagai pemimpin masyarakat. Menurut satu pendapat Nabi wafat tanpa meninggalkan wasiat kepada seseorang untuk meneruskan kepemimpinannya. Mereka berpandangan bahwa Abu Bakar lebih berhak atas kekhalifahan karena Nabi meridainya dalam soal-soal agama, salah satunya dengan mengimami salat berjamaah selama Nabi sakit.

Sebagai diketahui, kelompok pertama yang lebih dahulu menanggapi kepemimpinan pengganti Nabi adalah kelompok Anshar. Mereka melakukan pertemuan di balai Bani Saidah di Madinah dengan mencalonkan Saad bin Ubadah, pemuka Kazraj sebagai pemimpin umat.

Sedangkan, kelompok Muhajirin menjagokanm Abu Bakar karena dipandang paling layak untuk menggantikan Nabi. Lagi pula menyangkut temporal power kepemimpinan dalam masyarakat memang diserahkan kepada umat yang lebih membawa kepada kemaslahatan.

Pandangan mereka tercermin dalam pemerintahan Khulafaa ar-Rasyidin. Mereka tidak mempersoalkan suksesi pemilihan pemimpin, namun yang jadi fokus perhatian adalah nilai kemaslahatan pada umat. Karena itu sistem suksesi, misalnya, pada pemerintahan khulafa ar-Rasyidin berbeda satu sama lain.

Di pihak lain, terdapat sekelompok sahabat yang menghendaki Ali bin Abi Thalib, karena Nabi telah berwasiat secara jelas sebagai penggantinya. Di samping itu, Ali merupakan menantu dan kerabat nabi. Mereka percaya pada wasiat Nabi yang tertuang pada hadis yang disampaikan sekembali dari haji Wada di suatu tempat bernama Ghadir Khum, (tempat antara Madinah dan Mekkah). Karena itu hadis ini dikenal dengan hadis Ghadir Khum yang juga bisa dibaca pada literatur Sunni. Mereka berpandangan yang berhak sebagai khalifah adalah Ahlul bait Nabi, yaitu Ali bin Abi Thalib.

Perbedaan itu segera bisa diselesaikan dengan semangat ukhuwah setelah terpilihnya Abu Bakar sebagai khalifah pertama. Semangat ukhuwah tersebut bisa dilihat pada pemerintahan dua khalifah pertama, yaitu Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Di masa Abu Bakar, memang beberapa persoalan mulai muncul, di antaranya orang yang enggan membayar zakat, munculnya Nabi-nabi palsu, dan orang-orang murtad.

Semua itu Abu Bakar menghadapinya dengan baik. Namun, perbedaan itu, bagai api dalam sekam yang sewaktu-waktu bisa membakar bangunan ukhuwah yang telah ditanam fondasinya Nabi saw.

Betul saja pada masa khalifah ketiga, Usman bin Affan, pada pertengahan kedua pemerintahannya mulai goyah. Sebagian sejarawan mencatat bahwa Usman memerintah 12 tahun, mulai menjadi Khalifah pada umur 70 tahun dan pertengahan kedua sudah berumur 76 tahun. Ia sudah berumur lanjut dan memerlukan pembantu yang bisa dipercaya. Sayang yang diangkat sebagai pembantu utama adalah keluarganya, seperti sekertaris negara adalah kemanakannya sendiri, Marwan bin Hakam.

Akhirnya beliau menjadi boneka atas pemerintahannya sendiri di tangan keluarganya. Timbullah pemberontakan dari daerah-daerah, seperti Kufah, Basrah, dan Mesir. Mereka secara demonstrasi menuju Madinah dan mengepung rumah khalifah serta membunuhnya ketika Khalifah sedang membaca Alquran, pada tahun 35 H/17 juni 656 M.

Padahal Usman seorang sahabat dermawan dan sangat dekat dengan Nabi bahkan kedua putri Nabi dikawininya sehingga dijuluki zul nurain (pemilik dua cahaya).

Dalam hubungannya pemerintahan Usman, Nurkholis Madjid berkomentar bahwa, “Usman adalah seorang sahabat yang baik, sayang dia lemah dalam pemerintahannya.”
Wafatnya Usman dikenal dengan al-fitnatul kubra, artinya malapetaka yang maha dahsyat bagi umat dan berpengaruh pada pemerintahan berikutnya.

Juga memunculkan kembali semangat tribalisme yang telah berhasil diredam Nabi dengan menggantikannya dengan semangat ukhuwah. Paling menyedihkan karena peristiwa wafatnya Usman juga memiliki lantunan pengaruh jauh ke depan melampaui perjalanan masa dan tempat bahkan terasa sampai sekarang. Pengaruhnya itu, kita bisa lihat pada khalifah ke IV, Ali bin Abi Thalib yang akan diperkenalkan pada seri berikutnya.

Kenapa masalah perpecahan ini diangkat? Dimaksudkan agar kita semua jujur memahami peristiwa tragis masa lalu dan dampak peristiwa itu sekarang. Dengan memahami peristiwa tersebut secara jujur, umat dengan mudah mencarikan jalan keluar.

Umat perlu ditumbuhkan kesadaran sejarahnya, sebab menurut QS Hud, 120 guna sejarah adalah pelajaran dan peringatan, apa yang baik perlu dilanjutkan, sedang yang tidak baik cukup dijadikan pelajaran untuk tidak mengulanginya.

Guna ini perlu dikedepankan sehingga peristiwa tersebut bisa memotivasi pada persatuan umat seperti di periode Nabi saw. dalam menuju pembentukan dunia baru yang rahmatan lil alamin. Sebagai langkah awal, saya telah menulis buku kecil berjudul, “Persatuan Umat dan Saling memahami Perbedaan.” Kekurangan pada buku itu diharapkan penyempurnaannya oleh penulis lain berikutnya.■

Wassalam,
Makassar, 28 Juni 2021


BACA JUGA