Narkotika Memperpanjang Penanganan Pandemi

Firmansyah Lafiri
Tuesday, 29 June 2021 | 21:43 Wita

Oleh : Yusnita Rifai, Dosen Farmasi Universitas Hasanuddin dan Peneliti Bahan Obat Alam dan Sintetik

Cendekia.News — Momen peringatan bagi generasi muda melawan penyalahgunaan narkotika berlangsung pada bulan Juni setiap tahunnya. Sejumlah penelitian melaporkan bahwa pandemi COVID-19 memicu penambahan jumlah pengguna narkotika. Pada riset yang lain, dilaporkan bahwa adiksi narkotika memperburuk penyembuhan COVID-19.

Pengamatan terhadap 73 juta pasien di 360 rumah sakit Amerika Serikat pada akhir tahun 2020, memperlihatkan bahwa seseorang dengan diagnosis adiksi narkotika, 1,5 kali lebih mungkin terpapar COVID-19 daripada mereka yang tidak mengonsumsinya. Studi ini juga menemukan pasien dengan diagnosis seperti itu lebih mungkin mengalami COVID-19 yang parah daripada mereka yang tidak, termasuk rawat inap (41% berbanding 30%) dan kematian (9,6% berbanding 6,6%).

Salah satu narkotika populer yang kandungan kimia utamanya adalah opium dikenal di masyarakat sebagai morfin. Opium diisolasi dari Papaver somnaverum, penamaan morphia sendiri meniru nama Morpheus, dewa Yunani untuk mimpi.

Opioid bekerja di batang otak memperlambat pernapasan, meningkatkan risiko overdosis yang mengancam jiwa dan kerusakan jangka panjang pada otak, jantung, dan paru-paru. Oleh karena dampak negatif pada kesehatan paru-paru ini, pasien yang menggunakan opioid dosis tinggi dapat lebih rentan terinfeksi COVID-19, dimana akan berpeluang lebih parah. 

Penggunaan narkotika lainnya seperti metamfetamin, kokain, dan amfetamin juga dapat mempersempit pembuluh darah sehingga meningkatkan risiko stroke, serangan jantung, irama jantung abnormal, kejang, dan kondisi lain yang dapat menyebabkan kerusakan jantung maupun paru-paru.

Pasien Rumah Sakit, menurut hasil riset, yang telah didiagnosis adiksi kokain memiliki kemungkinan 6,5 kali lebih besar terpapar COVID-19 dibandingkan mereka yang tidak. Diperlukan lebih banyak penelitian untuk lebih memahami hubungan antara penggunaan stimulan jenis narkotika dalam memperparah infeksi COVID-19.

Kebergantungan utama yang ditimbulkan opium adalah efek candu akibat keberadaan struktur kimia utama seperti gugus n-tersier, gugus piperidin dan jembatan eter. Candu yang ditimbulkan adalah rasa euforia yang jika tidak dikomsumsi dalam jangka waktu tertentu, tubuh menagih secara psikis. Dari segi kesehatan, resiko yang pasti terjadi pada pemakaian berulang narkotika berupa kerusakan pada sistem saraf, jantung, paru-paru dan hati, yang berpeluang mudah terpapar COVID-19 dengan tingkat keparahan lebih tinggi.

Opium disintesis menjadi morfin. Modifikasi struktur morfin menghasilkan heroin. Heroin dan morfin memiliki kemiripan aksi farmakologi kecuali heroin memiliki dua grup asetil yang meningkatkan kelarutannya dalam lemak sehingga mudah berpenetrasi ke dalam otak. Dua grup asetil tambahan pada heroin ini menyebabkan efek candu heroin lebih kuat dan bekerja dua kali lebih cepat daripada morfin. 

Kabar gembira bahwa sekelompok ilmuwan di negeri Meksiko berupaya membuat vaksin yang mengurangi efek kecanduan pada heroin, akan membantu pencandu keluar dari mimpi buruk fatalisme narkotika. Vaksin tersebut berguna bagi para pecandu yang gagal melewati proses rehabilitasi biasa. Demi urgensi menyelamatkan negara dari ancaman narkotika, riset terpadu seperti ini perlu dijadikan konsorsium agenda riset di Indonesia di masa-masa mendatang. 

Pandemi berbulan-bulan menyebabkan faktor-faktor yang memicu lingkaran kerentanan sosial ekonomi diantaranya : berkurangnya interaksi antar manusia dan menurunnya produktivitas ekonomi. Perluasan pasar obat online ke media sosial dan platform perdagangan populer menunjukkan bahwa akses ke narkotika juga semakin mudah.

Peran pemerintah dan masyarakat termasuk keluarga sebagai komunitas terkecil dalam negara untuk memerangi gerakan peredaran narkotika ini menjadi kewajiban Ada nilai penyelamatan generasi disampaikan dalam QS. 31:13-19, yakni peringatan untuk tidak meninggalkan generasi yang lemah, yakni lemah ekonomi, iman (akidah), ilmu pengetahuan dan akhlak mulia.■