Politik sebagai Ilmu Wajib Diketahui

Firmansyah Lafiri
Wednesday, 30 June 2021 | 23:36 Wita

KHAZANAH SEJARAH: Ahmad M. Sewang

Cendekia.News — Sebenarnya, penulis sedang memikirkan sebuah tulisan sebagai pemantik agar teman-teman netizen bisa membantu menulis sebuah gagasan menuju persatuan umat Islam yang sedang mengalami perpecahan.

Namun salah satu medsos (WA) kembali mempersoalkan bahwa seakan berpolitik itu haram disentuh. Judul artikel seperti tertera di atas bahwa politik sebagai ilmu wajib diketahui. Menurut adagium, “Buta paling berbahaya adalah buta politik sebab orang lain bisa mempermainkan.” Karena itu di universitas yang baik selalu ditemukan fakultas sosial politik agar masyarakat tercerahkan dan tidak mudah dipermainkan dalam masalah politik.

Hanya saja pada tataran praktik perlu dipertimbangkan, karena tidak semua tempat bisa berpolitik, khususnya low politic. Karena itu para politician membagi politik dalam dua bagian,
Pertama low politik tidak sembarang tempat bisa disampaikan, misalnya kampanye tidak boleh di tempat umum, seperti di perguruan tinggi, masjid, dan gedung pemerintah sebab bisa mendatangkan kekacauan

Kedua, high politik bisa di tempat umum. Seorang ustaz bisa saja menyampaikan dalam sebuah pengajian dengan memperkenalkan hasil fatwa MUI tentang persyaratan seorang pemimpin. Padahal persyaratan seorang pemimpin termasuk politik, tetapi low politic.

Bisa juga menulis di WA tentang low politic dan tidak perlu alergi. Sayang sekali sebagian masyarakat Sulawesi Selatan terlanjur memahami citra politik itu buruk bahwa politik itu, “Balle-balle pammulanna, ceko-ceko ri tanggana, pettu perru ricappana.” (Politik) diawali dengan kebohongan, dipenuhi tipuan ditengahnya, dan diakhiri dengan pengkhianatan). Citra inilah, sehingga sebagian orang alergi dalam dunia politik.■

Wassalam,
Makassar, Akhir Juni 2021


BACA JUGA