Semua Media Sosial Adalah Sarana Menyebarluaskan Kebaikan

Firmansyah Lafiri
Friday, 02 July 2021 | 05:53 Wita

KHAZANAH SEJARAH: Ahmad M. Sewang

Cendekia.News — Setelah memperhatikan konten banyak medsos dan himbauan untuk kembali kepada tujuan utama medsos, yaitu salah satunya untuk meningkatkan kualitas pengetahuan dan membimbing ke arah yang lebih positif. Sehingga medsos lebih terasakan manfaatnya.

Sebagai manusia pasti memiliki kekurangan plus kelebihan. Kekurangan itulah yang harus diluruskan, bukan sebaliknya dijadikan media untuk menghina dan mengecilkan kehormatan orang lain. Media sebaiknya fungsional untuk pencerahan dan pencerdasan serta menyebarluaskan kebaikan yang mendapatkan nilai plus, bahkan pahala.

Kebiasaan saya, menulis artikel dengan tujuan kelak menjadi sebuah buku. Akhir-akhir ini, ada permintaan dari LP2M menulis buku. Alhamdulillah, sebelum penandatanganan kontrak buku saya sudah selesai.

Saya juga bersyukur karena setiap tahun paling tidak menulis satu buku untuk memenuhi tugas dosen bahkan tiga tahun terakhir saya telah menulis empat buku dan masih ada lagi satu buku menunggu penerbitnya.

Jika saya kemukakan ini, sama sekali tidak bermaksud menyombangkan diri. Saya
lebih mengikuti himbauan Akhy dan sahabat saya, Prof. Moh. Natsir Mahmud, “Daripada debat kusir di medsos lebih baik menulis buku” Katanya suatu ketika di WA.

Semua tulisan pasti memiliki kekurangan, karena itu semua kritikan harus disambut dengan hati lapang. Namun jika kritikan itu tidak subtantial, terkadang saya abaikan, apalagi jika menghambat penulisan buku. Bukan berarti tidak membaca kritikan itu, saya baca dengan saksama. Justru kritikan itu menjadi pelengkap sebuah tulisan.

Hanya memang ada teman netizen sukanya mengkritik yang terkadang tidak substansial bahkan dari kalangan akademisi misalnya, menjustifikasi seseorang ilmuwan atau ulama, hanya karena terpengaruh serpihan kritikan yang sama dimuat di koran atau di medsos lainnya, tanpa sama sekali validasi atau mendalami lebih dahulu bukunya. Jangankan mendalami membacanya pun tidak. Kebiasan semacam ini, bukan berasal dari tradisi akademik yang lebih baik dihindari.

Belum lagi, saya mengakomodir semua pandangan mazhab, tinggal memilih yang lebih relevan untuk masa kini. Sekarang sudah berdiri sebuah lembaga dengan memprioritaskan titik temu semua mazhab, bukan titik beda, jika titik beda yang dicari pasti tidak akan bertemu sampai hari kiamat. Karena satu organisasi saja atau satu mazhab sudah ditemukan nuansa perbedaan.■

Wassalam,
Makassar, 2 Juli 2021


BACA JUGA