Setiap Etnis, Bangsa dan Agama Merasa Terbaik pada Periode Tertentu

Firmansyah Lafiri
Wednesday, 07 July 2021 | 22:11 Wita

KHAZANAH SEJARAH: Ahmad M. Sewang

Cendekia.News — Setelah mempelajari, berbagi etnis, bangsa, dan agama di dunia, hampir semuanya merasakan merekalah paling unggul, bahkan termulia yang terkadang mengatas namakan Tuhan dalam kitab suci. Karena itu, jika perasaan ini dibiarkan tanpa ada regulasi yang mengatur, maka akan terjadi persaingan kurang sehat yang bisa menimbulkan konflik antara satu sama lain.

Sejak awal, Tuhan telah mengingatkan melalui firman-Nya dalam QS al-Rum: 32,
…كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ
… Tiap-tiap golongan, partai merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.

Dalam agama Yahudi dan Nasrani barulah senang jika semua manusia mengikuti agama mereka. Karena agama merekalah yang terbaik, seperti disebut dalam
QS al-Baqarahl/120,
وَلَن تَرْضَىٰ عَنكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ….
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.

Penganut Yahudi menganggap bahwa mereka pilihan Tuhan. Mereka mengutip kitab Bibel 15: 18 berbunyi, “Pada hari ini Tuhan membuat perjanjian dengan Ibrahim melalui firman-Nya, untuk keturunanmu Aku berikan tanah ini, dari Sungai Mesir hingga Sungai Besar, Sungai Efrat.” Dengan alasan itu, mereka bebas menganeksasi Palestina yang menjadi persoalan dunia sampai sekarang.

Dalam dunia Nasrani, mereka menganggap orang di luar agama mereka adalah domba-domba sesat yang harus diselamatkan, seperti dalam Matius 18: 12-14.

Dalam Islam juga demikian, seperti dalam QS Ali Imran/3: 19,
إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ
Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.

Demikian masing-masing agama telah mengklain diri paling unggul dari yang lain. Sikap ini benar jika ditujukan secara inside atau ke dalam untuk memaknai arti penting keberagamaan itu sendiri.

Tetapi menjadi masalah, jika sikap itu ditujukan secara outside atau keluar penganut agama lain, bisa menimbulkan kekacauan dan konflik berkepanjangan seperti di Palestina. Hal ini bertentangan dengan tujuan kehadiran agama itu sendiri yang tidak mentolerir kekacauan.

Jadi para ahli masing-masing agama, perlu berpikir keras dalam menciptakan dunia baru yang lebih damai demi tercapainya maqasid al-syariah. Sebab tujuan agama itu sendiri dalam membangun mayarakat masa depan adalah menciptakan keharmonisan dan perdamaian.

Semua agama telah memiliki pengalaman sejarah yang panjang. Islam telah pernah membentuk masyarakat madani yang harmoni di era Nabi di Madinah. Dari pengalaman itu ternyata masyarakat berbeda agama, bisa hidup rukun dan damai.

Prof Dr. Nurcholis Madjid ketika menafsirkan QS Ali Imran/3: 19,

bahwa Islam yang dimaksud adalah “kepasrahan atau tunduk patuh.” Beliau menafsirkan ayat dengan ayat bahwa para penganut agama siapa pun yang pasrah dan patuh, mereka itu bisa disebut muslim seperti yang ditemukan dalam QS al-Baqarah, 133 bahwa Nabi Ya’qub a.s. dan keturunannya adalah muslim, sebab ia tunduk patuh pada Tuhan,
أَمْ كُنتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِن بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَٰهَكَ وَإِلَٰهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَٰهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ
Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”.

Kementerian agama menerjemahkan kata،”muslimun” pada ayat tersebut adalah “tunduk patuh kepada Tuhan.” Itulah sikap outside yang diperlihatkan almarhum Nurcholish Madjid demi sebuah masa depan bersama.

Dalam memelihara kerukunan antara umat beragama, seperti diperaktikan pada masyarakat madani, hendapnya memakai prinsip saling menghormati dan tidak saling mengganggu dalam hal ibadah dan kepercayaan, “Untuk kalian agama kalian untuk kami agama kami,” (لكم دينكم ولى دين

Sedang dalam memelihara kerukunan intern umat beragama yang berbeda dalam pengamalan masalah furu’, berlaku prinsip, “Bagi kalian, silahkan mengamalkan agama berdasarkan pemahaman masing-masing dan kami pun demikian (لكم اعمالكم ولنا اعمالنا).

Pada seri berikutnya tentang bahaya jika ada etnis tertentu merasa paling mulia dari etnis lain, seperti yang telah menimbulkan peristiwa Holocaust dalam sejarah. Pembantaian habis-habisan masyarakat beragama Yahudi oleh etnis Aryah oleh Bangsa Jerman pada Perang Dunia II. Untuk itu, diperlukan sebuah regulasi dengan mencari titik temu dalam masyarakat plural seperti Indonesia.

Wassalam,
Makassar, 08 Juli 2021


BACA JUGA