Para Perusak Agama

Firmansyah Lafiri
Sunday, 25 July 2021 | 22:16 Wita

Oleh : Aswar Hasan, Dosen Unhas

Cendekia.News — Agama Islam adalah Rahmat dan bertujuan untuk menyempurnakan akhlak manusia.
Premis tersebut sudah menjadi Postulat yang tidak perlu diuji tapi tinggal membuktikannya dalam kehidupan bagi para penganutnya.

Permasalahannya, justru tidak sedikit penganut agama itulah yang mencemari kebenaran, dan kebaikan agama itu sendiri.
Muhammad Abduh (1849-1905) ulama pembaru dari Mesir, pernah berkata; “ Al Islamu mahjubun bil muslim (cahaya Islam ditutupi oleh orang Islam sendiri).”

Kenapa kebenaran, kebaikan dan keindahannya ditutupi oleh umat Islam sendiri? Sebuah hipotesis yang memerlukan penelusuran lebih jauh untuk mencari tahu jawabannya.

Menurut Professor Quraish Shihab ketika membahas bukunya Islam yang disalahpahami, menyatakan, bahwa setidaknya ada 3 (tiga) faktor yang membuat Islam banyak di salahpahami, yaitu;

Pertama, Karena Kedangkalan Pemahaman. Akibat pemahaman yang dangkal, banyak terjadi perbedaan yang berujung pada pertentangan, hingga bermuara pada pertengkaran dalam permusuhan antara satu dengan lainnya.

Akibatnya, Persatuan yang menjadi kewajiban akhlak berislam terabaikan dan seolah menjadi utopia untuk diwujudkan dalam dunia Islam. Inilah musibah kemasyarakatan dalam berislam yang sejatinya tidak boleh terjadi. Tapi itulah kenyataannya.

Kedua, emosi yang meluap tak terkendali dalam beragama atau biasa disebut sebagai Fanatisme Buta.

Dalam memahami Islam, masih didominasi oleh semangat berislam dengan menekankan pada emosi fanatisme yang berlebihan dengan bertumpu pada keseragaman pemahaman. Kalau pemahaman dan pengamalan tidak sesuai fiqhi mereka, maka dianggap bukan golongannya.

Bahkan, sangat mungkin dicap (dilabelisasi) di luar Islam alias kafir. Padahal, menurut Quraish, memahami Islam melalui tafsir Al Qur’an, itu bisa bermacam sudut pandang. Laksana seonggok berlian yang dimensi cahayanya berbeda- béda dari setiap sudut, tapi cahaya itu dari satu sumber yaitu berlian itu.

Demikian seharusnya dalam memahami Islam, bisa dari beragam perspektif tanpa harus menafikkan perspektif lain, karena sangat fanatik secara emosinal berdasarkan perspektifnya saja.

Ketiga, Arrogansi atau sombong lagi bodoh dalam mengamalkan Islam. Ada contoh menarik sekaligus menggelitik yang dikemukakan oleh Professor Quraish terkait kesombongan tersebut, yaitu; bagi orang yang telah merasa telah seperti Nabi (mengikuti jejaknya) dengan berpoligami, sebagaimana Nabi Muhammad, SAW berpoligami.

Orang lupa bahwa ada berbagai alasan obyektif yang bukan subyetif yang menyebabkan Nabi berpoligami. Sementara fakta poligami Nabi tersebut diperlakukan sebagai alasan subyektif. Ini adalah cermin kesombongan dalam berislam, karena mengklaim telah melakukan seperti yang dilakukan Nabi Muhammad,SAW, sekaligus bodoh, karena tidak memahami latar belakang dan kondisi obyektif mengapa Nabi Muhammad, SAW berpoligami.

Wallahu A’lam Bishawwabe.■

*) Telah terbit di Harian Fajar, Ahad,25 Juli 2021


BACA JUGA

Tags: