Ayat-ayat Quraniah Perlu Pengembangan

Firmansyah Lafiri
Monday, 26 July 2021 | 00:38 Wita

KHAZANAH SEJARAH: Prof DR Ahmad M. Sewang

Cendekia.News — Jika kita ingin memahami pandemi covid-19, maka tanyalah pada Ahl Zikri. Itulah pesan Tuhan, seperti dalam firman-Nya dalam QS al-Anbiya: 7:

فسالوا اهل الذكر ان كنتم لا تعلمون

Maka tanyakanlah pada ahlu al-zikr bila kalian tidak tahu. Siapa itu ‘ahli zikr’? Mereka itu adalah yang menguasai ayat-ayat Allah.

Ayat Allah itu terbagi dua. Pertama, ayat tertulis yang biasa disebut ayat qauliah dalam al-Quran. Kedua ayat tersirat yang biasa disebut ayat kauniah dalam al-Quran, tetapi bertebaran di alam semesta.

Orang yang menekuni ayat-ayat qauliah, bisa menjadi ahli di bidang “hukum Allah” dan orang yang menekuni ayat-ayat kauniah akan menghasilkan saintis. Baik ayat qauliah atau pun ayat kauniah, keduanya juga disebut ayat Quraniah karena keduanya diperintahkan Allah untuk mempelajarinya.

Karena itu kata ‘ayat’ diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan signs of God atau tanda-tanda kekuasaan Allah swt.

Menguasai salah satu jenis ayat tersebut disebut ulama dengan syarat mereka takut pada Allah swt. Dua kali kata “ulama” disinggung dalam Alquran,

QS Al-Shuara/26: 196-197,
وَإِنَّهُ لَفِي زُبُرِ الْأَوَّلِينَ

Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar (tersebut) dalam Kitab-kitab orang yang terdahulu.

أَوَلَمْ يَكُن لَّهُمْ آيَةً أَن يَعْلَمَهُ عُلَمَاءُ بَنِي إِسْرَائِيلَ

Dan apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka, bahwa para ulama Bani Israil mengetahuinya?

QS Fatir/35: 28,

وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَٰلِكَ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya).

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.

Kedua ayat di atas baik yang ahli ayat qauliah atau pun ahli ayat kauniah disebut ulama. Pengertian ulama yang mufradnya “alim” artinya orang yang mengetahui. Persyaratan utamanya, menurut Alquran” adalah mereka takut pada Allah swt.

Ayat pertama di atas berbicara tentang ulama bani Israel yang memahami isi Alquran. Pada ayat kedua jika dilihat dari munasabah ayat, berbicara tentang manusia dan binatang baik yang melata atau pun binatang ternak, maka kata ulama di sini berarti ahli tentang biologi yang juga disebut ulama, tetapi setelah ayat tersebut tiba di masyarakat muslim kata ulama direduksi pengertiannya menjadi sempit hanya terbatas pada ahli hanya ayat qauliah itu pun dipersempit lagi oleh masyarakat Nusantara, hanya pada ahli fikih.

Khusus ayat kauniah hukum-hukumnya pasti dan tidak akan mengalami perubahan. (QS al-Ahzab: 62) لَن تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلآ . Sebagai contoh jika ada benda lebih berat dari udara pasti jatuh ke bawah mengikuti daya tarik grativitasi bumi.

Biasanya yang ahli dalam masalah sunnatullah, misalnya ahli penularan covid-19 adalah dari kedokteran atau yang lebih khusus ahli pada penularan penyakit yang disebut epidemiologi.

Jika kita bertanya pada epidemiolog atau orang yang ahli tentang ayat kauniah tentang cara mencegah penularan covid-19, maka jawabannya kita sudah mengetahui, yaitu dengan memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan dengan air mengalir, maka ikutilah itu! sebab itu juga pesan Alquran melalui ayat-ayat kauniah.

Bolehkah, menjaga jarak pada keadaan darurat dalam salat? Orang yang bisa ditanyai adalah yang menguasai ayat-ayat qauliah. Menurut keputusan ahli tentang ayat qauliah dalam Alquran dan sabda Nabi saw., yang diwakili MUI bahwa menjaga jarak dalam salat, memakai masker, dan mencuci tangan, hukumnya menjadi wajib bila alasannya untuk menghindari bahaya bagi diri sendiri dan orang lain.

Hal itu berdasarkan hadis riwayat Ahmad, Rasulullah saw. bersabda,
 لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ
“Jangan membuat bahaya kepada diri sendiri dan orang lain.”

Dalam sebuah peristiwa sejarah di masa Umar ibn Khattab tentang menghindari wabah pandemi sebuah hadis diriwayatkan.

أَنَّ عُمَرَ، خَرَجَ إِلَى الشَّأْمِ، فَلَمَّا كَانَ بِسَرْغَ بَلَغَهُ أَنَّ الْوَبَاءَ قَدْ وَقَعَ بِالشَّأْمِ، فَأَخْبَرَهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏”‏ إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَقْدَمُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْه‏‏‏

Umar sedang dalam perjalanan menuju Syam, saat sampai di wilayah bernama Sargh. Saat itu Umar mendapat kabar adanya wabah di wilayah Syam. Abdurrahman bin Auf kemudian mengatakan pada Umar bahwa Nabi Muhammad saw. pernah berkata, “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.”

Hadits ini memerintahkan, jika terjadi wabah di suatu tempat, maka janganlah melakukan mobilitas manusia demi memutus mata rantai penyebaran wabah lebih luas. Dengan demikian kita tidak boleh fanatis dengan berbicara tanpa dalil dengan mengatakan, “Pasti tidak akan tertimpa penyakit jika Tuhan tidak menghendaki.”

Ucapan ini tidak seluruhnya benar, sebab kita juga diperintahkan Allah lebih dahulu berikhtiar. Inilah sependek bacaan saya selama ini, dan pesan ini sudah saya sampaikan pada khotbah Idulfitri lalu.

Mengembankan pengetahuan terhadap ayat-ayat Alquran adalah bagian dari integrasi keilmuan antara ilmu agama dan sains yang sementara dikembangkan oleh UIN yang jumlahnya sudah 23 buah seluruh Indonesia. Dengan tujuan untuk
menghilangkan dikhotomi ilmu pengetahuan.

Wassalam,
Makassar, 26 Juli 2021


BACA JUGA