Sejarah Integrasi Keilmian (2)

Firmansyah Lafiri
Sunday, 01 August 2021 | 22:11 Wita

■ KHAZANAH SEJARAH: Ahmad M. Sewang

Cendekia.News — Peristiwa Galileo berdampak jauh pada dikotomi ilmu pengetahuan di dunia Barat. Mereka kemudian membawanya ke negara-negara jajahan bersamaan dengan kolonialisasi.

Bangsa kolonial datang bukan hanya menguasai ekonomi juga segala aspek kebudayaan, seperti di dunia pendidikan. Mereka menerapkan dikhotomisasi pendidikan seperti dipraktikan di negara mereka, mulai dari Volsschool (sekolah rakyat) sampai ke Hoger Onderwijs (Pendidikan Tinggi).

Kondisi dunia pendidikan itulah yang mendorong HOS Tjokroaminoto memperkenalkan integrasi keilmuan. Dalam banyak kesempatan Tjokroaminoto selalu mengintrodusir bahwa Islam tidak mengenal dikhotomi keilmuan. Beliau sesungguhnya bisa dicatat sebagai pelopor reintegrasi ilmu pengetahuan. 

Seperti dikemukakan, Belanda datang dengan memperkenalkan pendidikan sekuler pada lembaga pendidikan di bawah naungan kekuasaan mereka. Belanda tidak memperbolehkan mengajarkan agama pada pendidikan di bawah kekuasaan mereka.

Pendidikan agama mereka istilahkan sebagai pendidikan akhirat. Orang yang ingin belajar akhirat, kata kolonial, dilakukan di luar sekolah-sekolah Belanda, seperti dilakukan oleh Muhammad Natsir, Kasman Singodimejo, dan lainnya. Mereka belajar agama di sore hari di luar sekolah Belanda.

Kiyai pun di lesantren membalas pendidikan sekuler itu dengan pendidikan sebaliknya. Pesantren didirikan dengan hanya mengajarkan agama. Saya masih ingat kiyai saya mengajar di madrasah tahun 1967 bahwa bahasa Inggris itu adalah bahasa munafik, lain tertulis lain bacaannya. Bahasa Inggris tidak terbawa sampai di akhirat, kata sang kiyai. Jadi imbas dikhotomi pendidikan masih terasa sampai pertengahan kedua abad ke-20-an.

Dengan demikian, Belanda yang datang ke Nusantara, bukan hanya untuk kepentingan penjajahan sekaligus memperkenalkan pendidikan sekuler. Setelah proklamasi kemerdekaan 1945, dikotomi pendidikan tetap saja berlanjut: Departemen Agama RI mendirikan madrasah sampai PT yang hanya megajarkan agama, sedang Departemen P dan K mendirikan sekolah umum, mulai SRN (SDN) sampai PT hanya mengajarkan umum.

Nantilah terjadi integrasi keilmuan tahun 2002 dimulai IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Para pengurusnya mendirikan Universitas Islam dengan wide mandat (perluasan mandat) yang diberi kewenangan mendirikan fakultas umum dengan mengintegrasikan agama dan umum untuk membedakannya universitas lainnya di luar UIN.

Di sini dua nama yang yang paling berjasa dalam reintegrasi ilmu pengetahuan dan sulit dilupakan, yaitu Prof. Dr. Harun Nasution dan Prof. Dr. Azyumardi Azra. Tahun 2002 adalah tonggak sejarah integrasi ilmu pengetahuan dengan memberi wawasan agama pada mata kuliah pengetahuan umum dan wawasan umum pada mata kuliah agama.

Sesungguhnya sebelum Perguruan Tinggi bergerak, maka lembaga-lembaga kajian sudah ada kecenderungan dan melaksanakannya, seperti Pengajian Aqsha di Makassar pada awal tahun -80-an, dan Pengajian Salahuddin di UGM Jogyakarta serta Pengajian ITB Bandung, walau masih sangat sederhana.

Para pengurus, nara sumber, dan peserta terdiri dari orang-orang yang berlatar belakang umum dan agama. Mereka saling belajar, ilmuwan agama sangat antusias jika nara sumbernya dari ahli disiplin umum. Mereka berusaha mensinergikan keahliannya dengan pengetahuan agama.

Sebaliknya, peserta dari ahli pengetahuan umum sangat antusias jika nara sumbernya ahli agama yang berusaha mensinergikan disiplin ilmu umum. Tidak heran jika ada peserta umum berkata, alangkah enaknya mengikuti jika ahli agama bicara umum. Sebaliknya, peserta yang berlatar belakang agama bilang, alangkah menariknya jika ahli pengetahuan umum bicara agama dan sebaliknya.

Semoga dengan metode integrasi ilmu pengetahuan bisa mengembalikan kejayaan Islam seperti pada periode kejayaan Islam di era klasik, seperti masa Alkhawarismi, al-Jabir, Umar Khayyan, Ibn Rusyd dan ilmuwan lainnya. Mereka mampu menyatukan dalam diri mereka antara agama dan sainst.

Sampai sekarang, seluruh Indonesia, dari Aceh sampai Makassar, sudah berdiri sejumlah 14 UIN yang akan berusaha menarapkan reintegrasi keilmuan. Saya optimis, walau tidak mudah, namun akan bisa dicapai asal semua civitas bersunguh-sungguh, من جد وجد


BACA JUGA