Menyikapi Musibah dengan Taubat dan Meningkatkan Ketaqwaan

Firmansyah Lafiri
Saturday, 07 August 2021 | 01:59 Wita

Oleh : Prof Dr Ir Mir Alam Beddu MSi, Guru Besar Ekologi Pertanian UIM Makassar & Ketua Lembaga Pengembangan Pertanian  PWNU  Sulawesi Selatan

Cendekia.News — Allah ta’alla berfirman

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah, tingkatkan ketaqwaan, sebenar-benarnya taqwa dan jangan pindah dimensi sebelum mampu berserah diri (al Muslimun) (QS: An Nisa (4):103

Bagaimana meningkatkan kualitas keimanan dan ketaqwaan, harus diawali dengan mengevaluasi diri, memahami dimana posisi kualitas keimanan dan ketaqwaan dengan ukuran kepatuhan dan ketaatan, terhadap perintah melaksanakan amalan dan menghindari larangan, bahkan cara berpikir, berprangsaka yang keliru terhadap sang Khaliq dan Makhluknya.  Bagaimana amalan ritual (syahadatain, shalat, puasa, zakat, umrah/haji/implementasi ritual),  muamalah peran kekhalifahan dalam berbagai profesi. 

Keimanan kita yang dibangun dengan 6 fondasi, atau rukun iman yang harus selalu dikoreksi dan diproses dengan keilmuan (ilmul yaqin) menuju pada keimanan yang kokoh (haqqul yaqin), sebagai dasar aqidah, Contoh bagaimana kekuatan keimanan kita kepada Tuhan, yang telah mengutus Rasulullah menyampaikan pesan dan panduan kehidupan dalam wujud Kitab suci (al quran), yang sudah banyak dipraktekkan dan dicontohkan oleh Rasulullah dibukukan dalam kitab al Hadist. Betulkah kita haqqul yaqin dengan informasi dan petunjuk dalam kitab suci. 

Ketika Allah memperkenalkan kepada hambanya melalui firmannya: QS. Ash-Shuraa (42):30 “Dan apa saja musibah yang menimpah kamu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri/kekuasaan. Dan Allah memaafkan sebagian besar kesalahanmu.”

 وَمَآ اَصَابَكُمْ مِّنْ مُّصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ اَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍۗ

Sejatinya ummat fokus merenungkan penyebab datangnya dan menetapkan metode yang tepat dan sesuai untuk menyikapi musibah sesuai rambu-rambu yang juga disampaikan oleh Allah. Apakah corona yang sudah 1,5 tahun dihadirkan di bumi ini, mengantar ummat banyak merenungkan penyebabnya, sebagai dasar untuk melakukan pertaubatan, baik pribadi, sosial, termasuk kebijakan pemerintah dan ulama dalam menyikapinya, jangan-jangan kebijakan dan menyikapinya pun harus “ditaubatkan” untuk menetapkan kebijakan dan sikap baru dengan memaksimalkan ikhtiar spiritual, memperbanyak dzikir, doa mendekatkan diri, pribadi, sosial dan kemasarakatan, berbangsa dan bernegara.

Tidak akan berhenti tanpa izin dan kehendak nya, sebagaimana hadir karena iznnya . Jika Allah menimpakan suatu bencana kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia…      (QS: Yunus (10):107. وَاِنْ يَّمْسَسْكَ اللّٰهُ بِضُرٍّ فَلَاكَاشِفَ لَهٗ ٓاِلَّا هُو

Orang beriman salah satu cirinya memnuhi perintah Allah untuk bertaubat:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا تُوْبُوْٓا اِلَى اللّٰهِ تَوْبَةً نَّصُوْحًاۗ عَسٰى رَبُّكُمْ اَنْ يُّكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّاٰتِكُمْ 

Wahai orang-orang yang beriman! Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu ( QS: at-Tahrin (66):8. 

Taubat adalah metode untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT (taqarruf ilallah), Taubat adalah tangga (makam) pertama pendakian spiritual menuju pada makam puncak mahabbah (merebut cinta sejati NYA)

Allah juga sudah memperkenalkan metode dan strategi yang “jitu” untuk menghadirkan keterlibatannya memberikan jalan keluar berbagai permasalahan dengan keimanan dan ketaqwaan وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا ۙ (Barang siapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah akan membukakan jalan keluar dari berbagai permasalahan yang dihadapi (QS: At.Talaq (65):2).

Ketika Allah sudah “terlibat” dalam memberikan jalan keluar, terkadang hukum alam, akal pikiran manusia tidak “berlaku” banyak informasi dalam al quran, api  yang hukum nya panas bisa menjadi dingin karena kehendaknya. Banyak peristiwa, secara akal pikiran tidak mungkin terjadi, penyakit tidak mungkin sembuh,  tidak mungkin dapat keturunan terjadi karena kehendakNYA.

Strateginya dengan mendekat dan mengharap hanya kepadaNYA sebagai pencipta, pemelihara dan penentu apa yang akan terjadi pada makhlunya. Bukti-bukti sejarah pada al qur’an dan kesaksian dalam kehidupan masyarakat pendekatannya adalah IKHTIAR SPIRITUAL, melalui perenungan, pertaubatan, mendekat dan penyerahan diri kepadaNYA.

Pertolongan Allah akan datang dengan menata kesabaran dan memperbaiki kekhusu’an shalat (wastaii’nuu bishobri washolat), telah banyak bukti ilmiah bahwa puasa mengaktifkan mekanisme “autofagi” dalam tubuh mengaktifkan “tentara” pertahanan tubuh yang dihadirkan oleh Allah SWT untuk menjaga kestabilan metabolisme ditingkat sel dan meningkatkan immune tubuh, selain itu memperbanyak dzikir, sholawat, doa, membaca dan mengkaji al quran, kenyataannya tidak popular menjadi himbaun umarah’ dan ulama menyikapi Corona.

Corona masih betah dan bertahan di permukaan bumi, mungkin saja pendekatan (ikhtiar) yang dilakukan masih fokus pada pendekatan pikiran rasional belum maksimal menyentuh pendekatan spiritual, peningkatan keimanan dan ketaqwaan, mendekat dan mengadu kepadaNYA, Jangan–jangan metode, kebijakan menyikapinya kontradiksi dengan  rambu-rambu yang diperkenalkan dan diharapkan Tuhan untuk dilakukan. Allah memperkenalkan Dirinya Maha Mengetahui, pikiran, niat dan apa yang dilakukan hambanya. 

Bulan DZULHIJJAH, bulan mulia, bulan berkah, bulan perenungan bagi ummat, mari fokus untuk evaluasi diri, evaluasi kebijakan berarafaf, berma,rifah untuk memulai hidup baru, IMAN YANG KUAT, TAQWA YANG BERKUALITAS di awal Tahun Baru Muharram. Awali dengan merenungkan kekurangan, dosa-dosa yang telah dilakukan (masyarakat-pemerintah-ulama), kemudian bangun komitmen diri untuk memperbaiki diri, meningkatkan kualitas ibadah ritual dan muamalah (kekhalifaan dalam berbagai profesi) yang bertanggung jawab.

Lontarkan segala setan-setan yang selalu gentayangan dalam pikiran, sifat-sifat serta prilaku yang menjauhkan diri dalam melaksanaan ke kehambaan dan kekhalifaan yang bertanggungjawab. Jalani realitas kehidupan, dengan niat dan memulai karena Allah  “bismillahi allaahuakbar, mencari ridhanya  berusaha menghadirkan “Allah” dzikrullah, menghadirkan sifatnya, mensucuikan, memuji dan mentauhidkan dan membesarkannya dalam berbagai aktivitas. Subhanalla, wal hamdulillah, walaa ilaaha illahllah huwallaahu akbar, laa haula walaa kuwwata illaa billahil aliyyil adzim

Setiap ibadah ritual ada wajib ada sunnah, Optimalkan sunnah untuk meningkatkan ketaqwaan, yang lebih mengetahui dimana posisi keimanan dan ketaqwaan kita adalah diri kita dengan Allah yang maha mengetahui.  Begitu pula tanggungjawab kekhalifaan dalam berbagai profesi, juga diketahui oleh Allah, jalan untuk merebut posisi ketaqwaan dan kemuliaan, ridha cinta dan kasih sayang Allah.

Tugas kekhalifaan dalam berbagai profesi  adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan…huwalladzii ja a’lakum khalaaifal  ardhi wa rafaa’  ba’dakum fauqa  ba’den darajaaten, liyab’luwakum  fii maa aataakum. .(Menjadikan kamu penguasa  (pejabat) di bumi meninggikan sebahagian kamu dari yg lain untuk menguji kamu atas apa yang  diberikan (damanahkan)  kepadamu (QS: (6):165.

Peningkatan kualitas keimanan dan ketaqwaan secara istiqamah, berkelanjutan akan mengantar hamba untuk mencapai kualitas diri dan keberagaman tertinggi al Muslimun dengan predikat JIWA ALMUTMAINNAH. Diri yang mendapat pengakuan sebagai hamba, mendapat ridho, panggilan kehormatan masuk surge.

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةًفَادْخُلِي فِي عِبَادِي وَادْخُلِي جَنَّتِي   

Hai jiwa yang tenang (tenteram dan damai) kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi di ridhai-Nya, Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku (yang saleh)  dan masuklah ke dalam surga-Ku (QS: Al Fajr (89):27-30).■

*) Disarikan dari Khutbah Jumat disampaikan Masjid Nururrahmah BTP Blok J 27 Makassar Sulawesi Selatan. Dzulhijjah 1442 H, 6 Agustus 2021 M