Belajar Sampai ke Negeri China

Firmansyah Lafiri
Monday, 23 August 2021 | 00:48 Wita

KHAZANAH SEJARAH: Prof DR Ahmad M. Sewang MA

Cendekia.News — George Sarton dalam Bagan Lintas Sejarah Perkembangan Ilmu Pengetahuan, sejak sebelum Masehi di era Yunani kemudian beralih pada kemajuan di China, dan menyusul Islam di periode klasik sebelum perkembangan ilmu pengetahuan beralih ke dunia barat sekarang ini.

Kebetulan di era kemajuan ilmu pengetahuan di era China antara tahun 600-700 Masehi, bersamaan dengan masa kehidupan Nabi saw. Tidak heran jika Nabi bisa mendeteksinya dan menganjurkan belajar ilmu pengetahuan sampai di negeri China tersebut.

Hadits ini menunjukan bahwa kepada siapa pun seorang muslim bisa belajar. Belajar ke negeri China sudah pasti bukan “agama” tetapi untuk kepentingan agama, seperti substansi pesan QS al-Taubah/9: 122,

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَائِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan tentang pengembangan agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.

Memperdalam pengetahuan dalam ayat ini sebaiknya diberi penafsiran lebih luas meliputi seluruh ayat tuhan baik qauliah yang akan menghasilkan ahli agama atau pun ayat kauniah yang akan menghasilkan sains. Setelah selesai studi mereka mencerdaskan kaumnya.

Islam selalu memelihara keseimbangan untuk memajukan kepentingan dunia dan akhirat. Tanpa keseimbangan, umat akan pincang bak orang berjalan dengan hanya kaki sebelah. Tidak bisa hanya larut dalam emosi perlu diseimbangkan dengan rasio, tidak cukup dengan menyerahkan sepenuhnya kepada takdir tetapi harus ada lebih dahulu berikhtiar maksimal.

Jika kita mendetailkan uraian bagan lintasan sejarah ilmu pengetahuan yang ditulis oleh George Sarton, maka Yunani termasuk gelombang pertama setelah Yunani yang memunculkan banyak Filosof seperti Plato, Aristoteles, dan Archimedes pada 450 SM sampai 250 SM

Kemudian disusul oleh China sebagai gelombang kedua yang menampilkan Hsian Tsang dan Ising pada 600-700 M, di sinilah Nabi mengenal Cina. Barulah menyusul kemajuan peradaban Islam pada Gelombang ketiga yang menampilkan al-Jabir, al-Khawarismi, al-Biruni, dan Umar Khayyan pada tahun 750-1250 M.

Sekalipun kualitas hadits yang dikutip di atas adalah masyhur dan cendrung jatuh pada maudu, namun telah dipraktekkan Prof. Dr. Mukti Ali di masa Orba dengan mengirim banyak mahasiswa ke dunia barat. Sehingga perguruan tinggi Islam sekarang menjadi muara pertemuan antara alumni barat dan Timur Tengah.

Natijah:

  1. Tidak boleh satu bangsa di dunia ini, mengklain diri paling super, sebab kemajuan satu bangsa berlangsung secara akumulatif mulai dari Yunani, China, Islam dan dari sini kemajuan itu berpengaruh ke dunia Barat.
  2. Boleh jadi bangsa yang pernah berjaya dalam lintasan ilmu pengetahuan akan berjaya kembali, jika mereka memenuhi persyaratan menuju kemajuan sebagai sunnatullah.
  3. Ternyata kepada bangsa mana pun yang sudah lebih dahulu mengalami kemajuan, seorang muslim boleh belajar ke sana untuk memajukan agama, negara, dan bangsanya setelah mereka kembali.■

Wasalam,
Makassar, 23 Agustus 2021


BACA JUGA