Persatuan Ummat dan Saling Memahami Perbedaan

Firmansyah Lafiri
Friday, 27 August 2021 | 10:07 Wita

KHAZANAH SEJARAH: Prof Dr Ahmad M. Sewang MA

Cendekia.News — Saya memimpikan suatu ketika umat bersatu di bawah naungan ketokohan seorang pemimpin yang dengan wibawanya dia didengar mayoritas umat. Banyak orang beranggapan bahwa cita-cita itu, sama dengan mimpi di siang bolong yang impossible, sulit terwujud dalam realitas. Mengingat jurang konflik di kalangan umat begitu lebar. Mungkin juga dengan kepentingan tertentu ada di kalangan umat tidak setuju.

Tetapi saya berpandangan bahwa biarlah orang lain menganggap sebuah khayalan yang mustahil, bagai kodok merindukan bulan. Bukankah begitu banyak yang mustahil di suatu masa di dunia ini di kemudian hari bisa terwujud dalam kenyataan? Sebagai contoh ketika awal perjuangan kemerdekaan banyak yang menganggap mustahil Indonesia bisa merdeka dengan alasan, “jarum pun tak mampu diciptakan,” apa lagi ingin merdeka. Bagaimana mungkin merdeka dengan senjata sederhana berupa bambu runcing melawan senjata canggih berupa pesawat pembom dan panser. Tetapi dalam kenyataan, akhirnya kita bisa merdeka.

Lagi pula seorang pejuang dahulu, seperti Ir. Soekarno berkata, “Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit.” Saya sadar bahwa persatuan umat tidak semudah membalik telapak tangan, tantangan pertama datang dari dalam umat berupa perbedaan di kalangan sebdiri. Beratnya tantangan yang dihadapi, maka saya tidak berambisi bahwa cita-cita persatuan itu akan terwujud semasih saya masih hidup. Boleh jadi baru bisa terwujud beberapa tahun setelah dipanggil Allah swt. ke hadirat-Nya atau mungkin baru terwujud setelah satu abad tulang belulang saya sudah hancur dalam pusara. Andai lama baru terealisasi, saya akan bersyukur pada-Nya dan menganggap cita-cita saya sudah terpenuhi.

Untuk mewujudkan mimpi itu saya mulai melakukan langkah-langkah kecil dari sekarang, yaitu:

  1. Memanfaatkan amanah untuk memimpin DPP IMMIM dengan berusaha mempertemukan para sahabat dan memulai menikmati hidup di tengah para pengurus dan para mubalig yang memiliki latar belakang ormas Islam yang berbeda-beda. Jadi telah ada usaha menggalang persatuan mulai dari organisasi kecil di tingkat daerah.
  2. Telah menulis sebuah buku kecil berjudul, “Persatuan Umat dan Saling Memahami Perbedaan.” Artinya, untuk bisa bersatu, maka harus saling memahami perbedaan, terutama masalah furu’. Masalah perbedaan adalah sunatullah atau al-sarwah (kekayaan) sebagai upaya ber-fastabiqul khaerat. Jadi persatuan yang dimaksud tidak termasuk persatuan dalam masalah furu,’ Prof. Dr. Syekh Yusuf al-Qardawi, (Direktur Uni Ulama Se Dunia), berkata, jika ada orang memiliki keinginan bersatu secara total atau keseluruhan dengan menghiraukan perbedaan, termasuk masalah furu, maka beliau mengingatkan, لم يكن وقوعه , (tidak mungkin terjadi dalan realitas). Sebab berarti orang itu telah menentang sunatullah itu sendiri. Jadi persyaratan utama persatuan umat adalah harus lebih dahulu siap menerima perbedaan, dengan kata lain seperti dinyatakan banyak orang, “Unity in Diversity.”  Itulah yang saya tulis dalam buku Persatuan Umat dan Saling Memahami Perbedaan. Buku ini telah saya sosialiasikan pada beberapa ormas Islam.
  3. Saya pun telah mencoba menawarkan beberapa waktu lewat orang-orang yang bersyarat ditunjuk sebagai pemimpin yang diperkirakan bisa diterima semua kelompok, sekaligus diharapkan bisa menutupi celah pertanyaan dari umat sendiri, seperti kenapa pemimpinn yang diambil dari NU atau Muhammadiyah, Syarikat Islam atau Perti dan seterusnya? Demikian halnya pemimpin yang terpilih dan mendapat amanah tidak bisa lagi merasa sebagai pemimpin kelompok atau pun organisasi, melainkan pemimpin umat bahkan bangsa secara keseluruhan.

Beberapa waktu terakhir ini, baik di tingkat internasional atau pun tingkat nasional sedang digalakan upaya persatuan umat. Pada tingkat internasiknal sudah beberapa kali dilakukan konferensi. Satu di antaranya menghasilkan risalah Aman.

Demikian halnya setiap tahun pada tingkat internasonal dilaksanakan التقريب بين المذاهب
(Pendekatan antara mazhab).
Menyangkut kegiatan terakhir ini sedikit banyak saya mengetahui karena selalu ada undangan.

Pada tingkat nasional secara periodik pula dilakukan pertemuan antara ormas dan mazhab yang berbeda. Pertemuan itu sebagai upaya mencari titik temu antara perbedaan. Saya berpendapat jika titik temu yang akan dicari, insya Allah saya optimis akan keremu; tetapi jika titik beda yang dicari pasti sampai kiamat pun tidak akan jumpa, sebab satu organisasi saja sudah ditemukan banyak perbedaan.

Terakhir kegiatan ini juga sedang digalakan. Memang di dalam Islam masih ada kelompok yang berpikir eksklusif tertutup yang merasa hanya dia saja yang benar sedang orang lain yang berbeda dengannya adalah salah. Menghadapi orang semacam ini diperlukan kesabaran dan selalu saya katakan, “walau pun beda dengan saya, namun dia adalah saudara saya,” karena perbedaan itu sunatullah dan tidak menghalangi menjalin persaudaraan.

Kenapa perlu persatuan umat? Saya berpandangan jika umat Islam bersatu adalah keuntungan dan kebaikan bersama seluruh bangsa, sebab umat Islam di Indonesia mayoritas dan akan bisa menjadi rahmat dan mengayomi seluruh bangsa yang berbenika tunggal ika.

Sekarang yang diperlukan adalah upaya menuju pada persatuan umat dan bersamaan dengan itu secara simultan perlu diiringi pembangunan sumber daya umat untuk mempersiapkan umat yang inklusif. Hal ini bagi umat Islam tidaklah sulit sebab sudah punya pengalaman historis, seperti dalam pembentukan masyarakat Madinah yang berpenduduk plural.

Di situ berbagai kelompok, etnis, dan agama. Ternyata semua penduduk yang plural merasa aman dan damai, serta tidak ada agama yang tereliminasi dan Islam jadi rahmat untuk semua. Tidak heran jika bapak bangsa, almarhum Prof. Nurcholis Majid berpandangan bahwa masyarakat Madinah lahir mendahului zamannya. Saya optimis kita pun bisa membentuk masyarakat Madinah jilid II yang seluruh warga saling menghargai dan saling hormat satu sama lain.

Jika di kalangan umat masih ada yang merasa terganjal untuk bersaatu karena perbedaan masalah ushul, menurut Prof. H.M. Quraish Shihab, turunkanlah sementara masalah usul itu menjadi masalah furu’ sehingga lebih mudah dibicarakan, jika tujuan utamanya menginginkan persatuan.

Akhirnya, ide ini diakui memang masih sederhana dan sangat tidak sempuna. Saya sama sekali jauh diri klaim paling benar, melainkan membuka diri dengan penuh kerendahan hati menerima masukan. Saya sungguh bergembira jika ada di antara nerizen/para pakar yang terhormat bisa melengkapinya. Untuk itu saya menungguh masukan itu dengan penuh harap.■

Wasalam,
Makassar, 27 Agustus 2021


BACA JUGA