Kenapa Umat Islam Mundur dan Umat Lainnya Maju

Firmansyah Lafiri
Sunday, 29 August 2021 | 22:34 Wita

KHAZANAH SEJARAH: Prof Dr Ahmad M. Sewang MA

Cendekia.News — Pertanyaan ini muncul kembali, setelah ditanyakan oleh seorang teman akrab, apa hubungan pertanyaan di atas dengan Muhammad Abduh dan muridnya Muhammad Rasyid Ridha? Pertanyaan itu saya jawab bahwa sudah diteliti oleh seorang mahasiswa PPS UIN Alauddin Makassar dalam bentuk disertasi.

Mahasiswa itu sudah selesai studi pada bulan Januari 2019 berasal dari Sambas Kalimantan Barat. Dia bernama Dr. Nasrullah, sekarang kembali bertugas di sebuah Perguruan Tinggi Agama Swata di Sambas. Saya sedikit-banyak mengetahui, sebab kebetulan promotor utamanya dalam penelitian tersebut.

Syekh Basiuni Imran kelahiran Sambas, hidup antara tahun 1906-1976. Saya berusaha membaca perjalanan hidup dan ketokohan almarhum melalui hasil penelitian Dr. Nasrullah. Ternyata almarhum seorang tokoh besar yang mendunia. Dia seorang terpelajar yang berani meninggalkan zona nyaman daerah kelahirannya Sambas untuk menuntut ilmu jauh ke Mekah dan kemudian lanjut ke Mesir. Sebuah perjalanan yang tidak mudah pada masa itu. Pulang dari Mesir langsung dipercaya mengajar, baik di istana kerajaan Sambas atau pun di masyarakat.

Namun, hubungan dengan almamaternya tetap terpelihara lewat majalah al-Manar, majalah prestisius di masanya. Saya pikir mungkin satu dua ulama di Asia Tenggara yang mampu berlangganan al-Manar di awal abad ke-20 di Nusantara. Di sinilah karier Muhammad Basiuni Imran mendunia. Melalui majalah ini Basiuni selalu menulis dan mengemukakan pertanyaan yang ditujukan pada gurunya, Muhammad Rasyid Ridha sebagai pemimpin al-Manar.

Satu di antara pertanyaan Basiuni yang banyak mendapat perhatian, yaitu,
لماذا تأخر المسلمون ولماذ تقدم غيرهم؟
(Kenapa umat Islam mundur dan kenapa umat lainnya maju?) 

Pertanyaan yang jauh dari Mesir melintasi Samudera Hindia berasal dari daerah terpencil di Nusantara, pedalaman Sambas. Pertanyaan itu dimuat di majalah al-Manar pada tahun 1929 dan mendapat banyak perhatian. Berhubung karena sangat sibuk, maka Rasyid Ridha meminta pada Amir Syakib Arselan, seorang penulis dan wartawan untuk menjawabnya.

Satu tahun kemudian muncullah jawaban lengkap dalam bentuk sebuah buku dengan judul yang sama. Buku ini sudah banyak diterjemahkan dalam berbagai bahasa, termasuk dalam bahasa Indonesia yang diterjemahkan oleh Buya Hamka. Sebuah pertanyaan besar telah menembus ruang dan melampaui masa dari pertengahan pertama abad ke-20 sampai pertengahan abad kr-21.

Sampai saat ini, umat belum bisa memberi jawaban secara konkrik. Lima tahun lewat DPP IMMIM telah mengangkat kembali sebuah tema yang sama dengan pertanyaan Syekh Basiui Imran di atas dalam bentuk diskusi panel dengan mengundang beberapa pakar di Makassar.

Diskusi panel dilihat dalam beberapa aspek. Kenapa umat Islam mundur dilihat dari berbagai aspek: sejarah, pemikiran, ekonomi, informasi dan aspek sosial? Sebuah diskusi yang ikut meramaikan Makassar di Aula IMMIM dan dihadiri Pangdam VII Wirabuana waktu itu.■ (Bersambung)


BACA JUGA