Kenapa Umat Islam Mundur dan Umat Lainnya Maju

Firmansyah Lafiri
Tuesday, 31 August 2021 | 00:18 Wita

■ KHAZANAH SEJARAH: Prof Dr Ahmad M. Sewang MA

Cendekia.News — Syekh Muhammad Basiuni Imran al-Sambasy telah berhasil mengajukan pertanyaan besar yang menembus batas ruang dan melampaui masa. Pertanyaan itu, belum terjawab secara konkrik oleh umat Islam sendiri. Padahal sudah berlangsung lama hampir satu abad, sejak pertengahan pertama abad ke-20 sampai pertengahan abad ke-21.

Dr. Nasrullah telah berhasil memperkenalkan Muhammad Basiuni Imran yang selama ini di Indonesia tidak banyak dikenal, sebagaimana halnya almarhum Prof. Dr. Abu Hamid yang meneliti Syekh Yusuf al-Makassary. Sebelumnya beliau hanya dikenal sebatas ulama penuh berkah dan kekeramatan yang kuburannya sepanjang tahun diziarahi.

Prof. Abu Hamid-lah yang berhasil memperkenalkan melalui hasil penelitian disertasinya, kemudian mengubah image masyarakat dunia bahwa Syekh Yusuf bukan sekedar ulama, melainkan lebih dari itu beliau adalah pahlawan besar di dua negara sekaligus, di Indonesia dan di Afrika Selatan.

Nelson Mandela sendiri telah menjadikannya sebagai idola dalam membebaskan negaranya dari apartheid. Setelah Abu Hamid memperkenalkannya, kemudian diabadikan dalam bentuk bangunan monumental dengan mendirikan sebuah masjid besar, yaitu Masjid Agung Syekh Yusuf di tengah Ibu Kota Kabupaten Gowa, Sungguminasa. Di Cape Town, Afrika Selatan, kuburannya pun dipugar sebagai seorang pahlawan besar yang menentang kolonial dan sekaligus dikenal sebagai pembawa Islam pertama ke sana.

Sebagai promotor, saya menyarankan agar implikasi penelitian Dr. Nasarullah bisa mengubah image masyarakat yang mulanya Syekh Basiuni Imran kurang dikenal, melalui hasil penelitian ini, Nasrullah harus tampil pro aktif memotivasi masyarakat Sambas mengusulkan sebagai pahlawan Nasional. Paling tidak menyarankan agar dibuatkan bangunan monumental, seperti perpustakaan, bangunan madjid, atau Perguruan Tinggi yang diberi nama al-Syekh Muhammad Baisuni Imran sebagai penghormatan dengan mengabadikan namanya. “Orang Besar adalah orang yang bisa menghargai jasa tokohnya.”

Natijah;

  1. Dilihat dari kisi-kisi sejarah, pertanyaan di atas tidak ada sangkut pautnya dengan Muhammad Abduh, sebab beliau meninggal dunia tahun 1905 sedang Syekh Basuni Imran yang mengajukan pertanyaan ke majalah al-Manar pimpinan Muhammad Rasyid Ridha pada tahun 1929.
  2. Syekh Basiuni Imran lahir di Sambas tahun 1906 setahun setelah Syekh Muhammad Abdu meninggal dunia di Mesir. Jadi keduanya tidak pernah ketemu secara pisik. والله اعلم■
       
    Makassar, 31 Agustus 2021


BACA JUGA