Prof Dr Zainuddin Taha dan Rekonstruksi Sejarah Islam Lokal

Firmansyah Lafiri
Saturday, 13 November 2021 | 06:20 Wita

KHAZANAH SEJARAH: Prof Dr Ahmad M. Sewang MA

SOSOK — Pagi hari sekali di awal Oktober 2021 Prof. Dr. H. Zainuddin Taha datang di rumah, beliau membawakan sebuah buku sebagai hadiah yang berjudul, “Sulawesi 1940-1960 (Dari Ratulangi ke Andi Pangerang Petta Rani),” yang ditulisnya sendiri.

Pada pertemuan itu, saya manfaatkan kesempatan menggali masa lalu Sulawesi Selatan yang beliau pernah lewati. Ternyata Prof Zainuddin Taha termasuk manusia langka yang banyak memiliki informasi historis tentang Sulawesi Selatan.

Beliau dikenal berperan banyak di Sulawesi Selatan. Beliau adalah perintis pendirian organisasi HMI, tokoh NU, salah seorang perintis MTQ I di Indonesia yang dilaksanakan di Makassar, mantan Badan Pengurus Harian Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan, seorang yang pernah berperan aktif di Perguruan Tinggi IKIP Makassar, mantan Rekor Universitas Islam Makassar.

Jabatan terakhir beliau di masyarakat
adalah Ketua Asosiasi Professor Indonesia I 2004-2017. Dengan sederet jabatan tersebut saya manfaatkan untuk menggali sejarah Sulawesi Selatan, terutama pada pertengahan pertama abad-20.

Bukan kali ini datang di rumah, beliau selalu menggembirakan sebab setiap kedatangannya selalu membawa hadiah buku yang sebelumnya belum pernah saya baca. Saya pun berusaha membalasnya dengan menghadiahi buku. Memang, cara membangun persahabatan dengan saling menghadiahi seperti itu disunahkan Nabi saw.

Pertama kali ke rumah beliau membawa konsep naskah untuk diterbitkan dalam bentuk buku tentang “Sejarah NU Sulawesi Selatan,” sambil meminta agar saya, sebagai guru besar di bidang Sejarah Peradaban Islam, “Paling tepat memberi sambutan pada buku itu,” kata beliau.

Saya tentu dengan senang hati menyambutnya sambil berkata bahwa memang Sulawesi Selatan dari segi hisroris masih perlu banyak diteliti, ia masih merupakan hutan belukar yang perlu dibabat oleh para sejarawan atau peminat sejarah.

Menurut perkiraan, sejarah Sulawesi Selatan baru lima persen yang bisa digali. Sisanya masih tenggelam dalam lautan misteri sejarah. Itu sebabnya, saya merekomendasikan sejarah Islam Sulawesi Selatan, khususnya sejarah lokal abad ke-20 (karena lebih mudah diingat) perlu segera ditulis.

Agar diketahui generasi muda secara utuh, maka sejarah ormas-ormas Islam, seperti Muhammadiyah, Syarikat Islam, Perti, dan ormas lainnya dititi secara bersamaan, menyusul sejarah Nahdatul Ulama yang sudah dalam proses percetakan.

Hal ini sangat urgen semenjak:

  1. Para pelaku sejarah masih hidup. Mereka adalah sebagai saksi pandangan mata peristiwa penting di masa lalu.
  2. Dengan penulisan itu, generasi muda akan memiliki khazanah sejarah Islam secara utuh, sekaligus upaya melestarikan pesan presiden Indonesia pertama, Ir. Soekarno, “jasmerah”, jangan sama sekali melupakan sejarah.

Mengenang MTQ I

Sungguh senang berkenalan dengan Prof. Dr. H. Zainuddin Taha. Kesenangan itu disebabkan karena kami memiliki paling tidak dua persamaan, yaitu:

  1. Kami berdua sama-sama pencinta sejarah, seperti terungkap sepanjang perbincangan.
  2. Kami berdua alumni Universitas Leiden yang pernah tinggal satu tahun di Belanda untuk research.

Dalam perbincangan itu, saya banyak mendapat pengetahuan historis, bak air mengalir deras dari pikiran beliau, seperti masa lalu MTQ I. Dalam naskah MTQ I yang beliau telah rapikan, para pembaca akan mendapatkan banyak informasi tentang para tokoh MTQ I tersebut, seperti: Achmad Lamo (Gubernur Sulawesi Selatan, waktu itu), Drs. Zainuddin Taha (Ketua BPH dan salah seorang Ketua Panitia MTQ I yang selalu mewakili gubernur dalam rapat-rapat MTQ), Mayor H.M. dg Patompo (Wali Kota Makassar ), Hasan Muhammad, H. (Kakanwil Departemen Agama Sulawesi Selatan), H. Fadli Luran (Ketua Umum DPP IMMIM), Drs. H.M. Riza (Kepala RRI Nusantara IV Makassar), Brigjen Solichin GP (Pangdam XIV Hasanuddin), Drs. K.H. Muhyiddin Zain (Rektor IAIN Alauddin), K.H.M. Saleh Thaha (Ketua Pengadilan Tinggi Agama Islam Indonesia Timur), dan Haji Kalla (Pengusaha Muslim yang dermawan).

Membaca naskah MTQ tersebut, membawa saya larut dalam kenangan lebih 50 tahun silam, waktu itu masih di kampung umur 16 tahun, namun sudah bisa mengetahui kejadian sekitar. Setiap malam, selesai salat Isya, penduduk berkumpul mengelilingi radio sebagai satu-satunya media informasi saat itu.

Masih segar dalam ingatan saya rumah tempat berkumpul, milik seorang kiyai, yaitu K.H. Abul Gani, bapaknya, K.H. Syauqaddin. Maklum radio masih langka, sedang televisi belum dikenal masyarakat. MTQ, seperti yang saya rasakan di daerah sangat berpengaruh di tengah masyarakat, apalagi kampung saya dikenal kampung santri sejak dahulu kala.

Tidak heran jika saat itu membuat suasana kampung demam Alquran. Setiap malam masyarakat di kampung mengikuti secara antusias laporan pandangan mata reporter RRI. Para reporter secara bergantian melaporkan dari detik per detik langsung di pusat pelaksanaan, Stadion Mattoangin Makassar.

Menurut Prof. Zainuddin Taha, masyarakat pun beramai-ramai berdatangan memeriahkan di stadion Mattoangan. Inilah salah satu pengaruh nyata MTQ I masa itu. Sayang suasana semacam itu tinggal nostalgia yang mungkin sudah sulit ditemukan di masa sekarang. Kenapa masyarakat begitu antusias?

Hal itu, ada hubungannya dengan moment peristiwa G30S yang belum lama terjadi. Jadi masyarakat ingin tampil sebagai orang paling beragama. Bandingkan penyelenggaraan MTQ zaman now, menurut wawancara langsung dengan pegawai di kementerian agama bahwa saat ini masyarakat justru sepi dari keramaian pada setiap kegiatan MTQ, bahkan gedung LPTQ yang terletak di jalan Tallasapang kosong aktivitas dan tidak ada ormas yang berkantor di sana.

Dalam perbincangan dengan Prof. H. Zainuddin Taha, baru saya mengetahui bahwa beliau adalah orang pertama membawa HMI ke Sulawesi Selatan, bahkan beliau adalah perintisnya sebagai Ketua Umum pertama Badan Koordinator Indonesia Timur. Sebelum berpisah saya pun berusaha merayunya, agar menerbitkan buku sejarah awal HMI di Sulawesi Selatan.

Saya bukan aktivis HMI, tetapi sebagai pencinta sejarah Islam, sangat menyukai jika semua peristiwa itu diungkap, tanpa membedakan. Saya juga minta agar segera mewujudkan naskah MTQ I tahun 1968 dalam bentuk buku agar jejak masa lampau bisa jadi pelajaran generasi kini dan masa depan.

Itulah tujuan mempelajari sejarah menurut para sejarawan dan itu juga tujuan belajar sejarah dalam QS Hud: 120. Menurut para sejarawan bahwa belajar sejarah bagai driver di atas sebuah kendaraan yang sewaktu-waktu melihat ke kaca spion agar perjalanannya ke depan selamat dan tetap di atas jalan benar tidak masuk jurang.

Setelah berbincang banyak dengan Prof. H. Zainuddin Taha ternyata beliau masih menyimpan setumpuk arsip dari A sampai Z tentang MTQ tersebut. Beliau adalah panitia inti MTQ I yang super aktif dalam kegiatan itu. Menurut pengakuannya, tinggal beliau satu-satunya yang masih tersisah dari semua panitia MTQ I itu, semuanya sudah dipanggil Allah swt. kehadirat-Nya.

Untuk mengetahui secara detail jalannya MTQ itu, tentu perlu menelaah lebih dalam naskah tersebut. Banyak informasi penting yang termuat, seperti bagaimana hubungan sinergi antara panitia pusat di Jakarta dan panitia daerah di Makassar dalam penyelenggaraan MTQ I waktu itu?

Bagaimana Muhammadon menjadi juara MTQ pertama pada tingkat Internasional di Kuala Lumpur, Malaysia? Siapa Muhammadon, qari populer di masa itu? Terakhir, bagaimana pengaruh MTQ I di masyarakat Sulawesi Selatan? dan seterusnya.

Akhirnya, saya merekomendasikan agar para peneliti sejarah MTQ I, terutama mahasiswa S3, menjadikan naskah yang bakal diterbitkan dalam bentuk buku dan Prof. Dr. H. Zainuddin Taha sebagai sumber primer.■