Menuju Perguruan Tinggi Berkualitas

Firmansyah Lafiri
Wednesday, 30 March 2022 | 23:57 Wita

Oleh : Syamril Al Bugisy, Rektor ITB Kalla

Cendekia.News — Pada Sabtu-Ahad, 26-27 Maret 2022 bertempat di Toraja telah berkumpul para pimpinan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) se Sulsel, Sulbar dan Sultra.

Mereka hadir sebagai peserta Rapat Kerja Pimpinan PTS yang diadakan oleh LLDikti Wilayah IX. Terdapat 261 PTS dengan sebaran 195 PTS (75%) di Sulsel, 47 PTS (18%) di Sultra dan 19 PTS (7%) di Sulbar.

Dalam paparannya Kepala LLDikti Wayah IX Drs Andi Lukman MSi menyampaikan bahwa kualitas PTS di Sulselbartara masih belum menggembirakan.

Hal ini dapat dilihat dari hasil akreditasi institusi dan program studi. Hanya ada 1 PTS akreditasi Unggul (A), 23 PTS Baik Sekali (B), dan 86 PTS Baik (C).

Terdapat 151 PTS ( 58%) yang kategori TMSP (Tidak Memenuhi Syarat Peringkat). Akreditasi Program Studi juga rata-rata masih rendah.

Dari 1.241 Prodi hanya 3% (37 prodi) kategori Unggul (A), 39% (484 prodi) Baik Sekali (B), 34% (422 prodi) Baik (C), 12% (149 prodi) Minimal dan 12% (149 prodi) TMSP (Tidak Memenuhi Syarat Peringkat).

Hal ini sejalan dengan gambaran kualitas dosen. Dari 11.607 dosen hanya 84 orang (0,8%) yang Professor atau Guru Besar. Hanya 1.826 (16,5%) berkualifikasi S3.

Masih terdapat 3.760 dosen yang kategori pengajar karena masih S1 dan atau belum memiliki jabatan fungsional. Lalu hanya 43,9% (4858 orang) yang Dosen Bersertifikat Pendidik.

Dampak dari kondisi tersebut adalah kualitas alumni PTS secara umum belum memenuhi harapan stakeholder. Mereka rata-rata belum bisa bersaing dengan alumni PTN pada bursa tenaga kerja karena kompetensinya masih rendah.

Akibatnya lulusan PTS sebagian besar menjadi pengangguran terbuka maupun tertutup. Padahal harapan orang tua membiayai anaknya lanjut ke Perguruan Tinggi yaitu mendapatkan pekerjaan yang layak atau wiraswasta sehingga dapat hidup mandiri.

Kemendikbud Dikti telah menetapkan 8 Indikator Kinerja Utama Perguruan Tinggi. Indikator pertama yaitu lulusan mendapatkan pekerjaan yang layak dengan upah di atas UMR, berwirausaha atau lanjut studi sehingga tidak menganggur.

Agar dapat mencapainya maka indikator kedua yaitu mahasiswa mendapat pengalaman di luar kampus.

Digagaslah program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) sebanyak 20 SKS di luar kampus melalui kegiatan magang/praktek kerja, pertukaran mahasiswa, asistensi mengajar di satuan pendidikan, riset/penelitian, proyek kemanusiaan, kegiatan wirausaha, studi/proyek independen, dan membangun desa/kuliah tematik.

Kualitas pendidikan di Perguruan Tinggi sangat ditentukan oleh mutu dosen. Maka Indikator Kinerja Utama ketiga yaitu dosen berkegiatan di luar kampus dengan mencari pengalaman industri atau berkegiatan di kampus lain.

Harapannya dapat meningkatkan kompetensi dosen dengan mengetahui kondisi dunia industri secara langsung melalui praktek nyata sebagai praktisi di industri.

Juga berkegiatan di kampus lain sehingga terjadi benchmark dan pengayaan atau saling mengisi antar dosen.

Indikator keempat yaitu praktisi mengajar di dalam kampus. Caranya Perguruan Tinggi merekrut dosen dengan pengalaman industri.

Harapannya dosen tidak hanya menyampaikan pengetahuan dari textbook tapi juga contoh aplikasinya di dunia kerja dan industri dari hasil pengalaman pribadi.

Jika tidak bisa merekrut maka cara lain yaitu program dosen tamu dari praktisi untuk bahasan tertentu.

Indikator kelima yaitu hasil kerja dosen digunakan masyarakat dan dapat rekognisi Internasional. Hasil penelitian diaplikasikan di masyarakat dan dunia industri. Dampaknya dapat meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat.

Indikator keenam yaitu program studi bekerja sama dengan mitra kelas dunia. Harapannya melalui kerja sama itu dapat mendorong pelaksanaan proses pembelajaran berkualitas kelas dunia. Juga membuka networking mahasiswa secara luas.

Tentu saja juga didukung oleh indikator ketujuh yaitu kelas yang kolaboratif dan partisipatif. Menggunakan metode pembelajaran pemecahan kasus (case method) atau pembelajaran kelompok berbasis proyek (team based project).

Juga didukung oleh indikator kedelapan yaitu program studi berstandar Internasional yang memiliki sertifikat Internasional yang diakui pemerintah. Juga memperoleh akreditasi tingkat Internasional.

Semoga dengan 8 Indikator Kinerja Utama tersebut Perguruan Tinggi dapat menciptakan SDM yang unggul yang kompeten, produktif, sejahtera dan siap menghadapi tantangan zaman.

Hal itu dapat diraih melalui kolaborasi dan fasilitasi dari pemerintah melalui Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) di wilayah masing-masing.■


BACA JUGA

Tags: