Teruslah Menyuarakan Kebenaran

Firmansyah Lafiri
Monday, 18 April 2022 | 09:27 Wita


■ Oleh : Prof Dr Ahmad M. Sewang MAKetua Umum DPP IMMIM

Cendekia.News — Artikel ini walaupun dimuat secara umum. Namun secara khusus saya tujukan pada para sahabat penyeruh kebaikan agar tidak berkecil hati mendapatkan hambatan.

Memang banyak yang perlu diperbaiki dengan melakukan autokritik seperti perbaikan strategi, perenungan matang tentang diksi mengenai maslahat yang akan ditimbulkan.

Sebaliknya, lebih baik diam jika pesan yang disampaikan hanya sekadar kepentingan sesaat, apalagi menimbulkan kegaduhan dalam masyarakat. Memang itulah tugas seorang muslim membagikan kebaikan, sekalipun satu ayat.

Dalam perjalanan sejarah perubahan terkadang mengarah pada anomali sosial, dahulu kita masih bisa mendapati banyak orang jujur bahkan bisa melakukan transaksi berhektar tanah tanpa perlu surat akte jual beli, namun transaksi itu berlangsung dengan baik.

Sekarang, jangan sama sekali melakukan transaksi tanpa ditunjang bukti surat sah kepemilikan. Sedangkan lengkap saja surat-surat kepemilikannya, orang atau ahli warisnya bisa saja menggugatnya sebab boleh jadi surat tanahya itu dipalsukan.

Itulah yang dikatakan oleh sosiolog anomali sosial. Semakin ke kini, manusia seharusnya semakin pintar, tetapi sebagian kepintaran manusia masa kini digunakan untuk mengelabui.

Itulah pesan dan sambutan saya kepada panitia masjid Nurul Mu’jizah, Andi Badi Sommeng, ketika menerima tanah waqaf dan bantuan satu milyar dari salah seorang waqif dan seorang donatur dua hari lalu agar segera melengkapi surat-surat penyerahan itu.

Ada juga yang berkata zaman kini orang semakin takut mengemukakan kebenaran. Karena sebagian orang memilih jalan sebaliknya, tidak suka pada kebenaran itu sendiri karena punya kepentingan di dalamnya.

Bahkan kita mengetahui bahwa ada yang memilih profesi sebagi buzzer sengaja digaji untuk mencari-cari kesalahan dan melarang orang mengemukakan kebenaran.

Kepada teman-teman pejuang kebaikan jangan pernah merasa terhambat karena ulah si buzzer. Sampaikan kebenaran itu dengan tulus, setelah mempertimbangkan bahwa maslahatnya lebih banyak daripada mudaratnya.

Bahkan Presiden pertama RI berkata perjuangan akan semakin susah sebab boleh jadi yang menjadi buzzer adalah sebangsa dan sekeyakinanmu sendiri apalagi jika buzzer itu dianggap kelompok terpelajar. Di dunia ini semakin banyak godaannya membuat banyak orang terseret di dalamnya.

Kepada pejuang kebenaran, saya dari jauh ikut menyemangati, “Jangan pernah berkecil hati. Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam sebagai manusia teladan begitu banyak juga tantangan yang dihadapi. Kepala buzzer utama di masa Nabi datang dari karibnya sendiri, Abu Jahal dan Abu Lahab.

Nabi pernah mengungsi ke Taif untuk meminta perlindungan, namun bukannya perlindungan yang didapat, justru penganiayaan sampai Nabi berdarah-darah dan Jabril pun ikut prihatin melihat Nabi.

Jibril merasa kasian dan menawarkan bantuan. Jabril berkata, “Ya Nabiyullah, lihat gunung itu di sana, bagaimana jika gunung itu diangkat dan ditimbun saja hidup-hidup si penganiaya itu.” Nabi justru menolaknya, bahkan berdoa,
اللهم اهد قومى فإنهم لايعلمون

Ya Allah, berilah petunjuk pada kaumku, karena mereka itu belum mengerti.

Jika utusan Allah saja yang sengaja diutus sebagai manusia pilihan di-bully, apa lagi kita sebagai manusia biasa.

Karena itu, teruslah menyuarakan kebenaran. Hadapilah buzzer itu dengan akhlak karimah, sabar dan tetap berdoa sambil memperbaiki diksi dan strategi dakwah, jangan pernah memperlihatkan kekerasan.

Itulah pesan Allah dalam Alquran yang saya ketahui, yaitu menghadapi kejahatan dengan kebaikan dan sabar. Percayalah bahwa Allah ta’ala bersama orang yang sabar.■ 


BACA JUGA