Dewasa dalam Perbedaan

Firmansyah Lafiri
Tuesday, 12 July 2022 | 02:13 Wita

■ Oleh : Prof Dr Ahmad M. Sewang MAKetua Umum IMMIM

Cendekia.News — Seperti pernah saya posting bahwa perbedaan adalah sunnatullah. Menurut al Qardhawi jika ada orang mencita-citakan keluar hanya satu pendapat dalam masalah furu berarti ia telah mencita-citakan sesuatu yang tidak mungkin dan ia telah menentang sunnatullah.

Untuk itu yang sangat diperlukan umat sekarang adalah kedewasaan, yaitu bagaimana memahami perbedaan dan bersatu dalam perbedaan.

Di bawa ini saya akan kemukakan leadership Nabi shallallahu alaihi wa sallam di tengah perbedaan di kalangan para sahabat. Saya akan menunjukkan 1, 2, hadits yang memperlihatkan kearifan Rasulullah dalam menghadapi perbedaan para sahabatnya mengingat keterbatasan ruang. Hadits ini hanya diambil dua sebagai contoh.

lmu sejarah mengajarkan bahwa hampir semua pendapat lahir dari respon seseorang terhadap peristiwa yang dihadapinya. Juga termasuk hadis Nabi yang dalam ilmu hadis disebut asbab al-wurud.

Karena itu membaca sebuah pendapat atau teks perlu melihat apa yang melatarbelakangi teks itu muncul, sehingga satu pendapat atau teks memperoleh konteksnya yang tidak hanya dimaknai secara rigid.

Terkadang sebuah hadis tidak diketahui asbab wurudnya, tetapi para ulama dapat berijtihad mencari konteksnya. Sebagai contoh yang diambil dari teks hadis tentang peristiwa Bani Qraizah, sebuah tempat pada komunitas Yahudi di Madinah. Teks hadis itu berbunyi,
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْأَحْزَابِ لَا يُصَلِّيَنَّ أَحَدٌ الْعَصْرَ إِلَّا فِي بَنِي قُرَيْظَةَ

Nabi bersabda sekitar Perang al-Ahzab: “Janganlah seseorang melaksanakan salat Asar kecuali setelah tiba di perkampungan Bani Quraizhah.”

Dalam penjelasan lebih jauh, al Qardawi mengemukakan:
فأدركتهم صلاة العصر فى الطريق؛ فقال بعضهم لا نصلى الا فى بنى قريظة؛ وقال بعضهم: لا يرد منا هذا؛ فصلوا فى الطريق؛ فلم يعب واحدة من الطائففتين

Setelah berangkat, sebagian dari pasukan (memahami hadis itu secara kontekstual) sehingga mereka melaksanakan salat Asar di perjalanan (mengingat waktu salat Asar sudah hampir berakhir). Maksud Nabi sesungguhnya agar mempercepat perjalanan.

Sementara sebagian yang lain (memahami secara tekstual), sehingga mereka meninggalkan salat Asar. mereka berkata; “Kami tidak akan salat kecuali setelah sampai di perkampungan itu (Bani Quraezah).” Setelah kejadian itu diberitahukan kepada Nabi beliau tidak menyalahkan salah satu pihak pun.”

Yusuf Al-Qardawi, ulama kontemporer, berpendapat bahwa memahami sunah tidak bisa lepas dari konteks sosial penuturannya. Al-Qardawi berpandangan bahwa memahami sunah perlu mempertimbangkan tujuan (maqasid), konteks (mulabasat), dan faktor (asbab). Sehingga sebuah hadis segera bisa diketahui, apakah kontennya bersifat umum atau temporal.

Demikian pula didapati perbedaan kepribadian antara sahabat Abubakar yang selalu memperlihatkan kelembutan dan kasih sayang (.الرفق والرحمة ). Sedang Umar bin Khattab senantiasa memperlihatkan kekuatan dan ketegasan ( القوة والشدة).

Hal ini tercermin ketika keduanya dipanggil oleh Nabi dan dimintai pendapat tentang “Tawanan Perang”. Umar bin Khattab memberi saran,
وقال عمر: يا رسول الله؛ اضرب أعناقهم

Umar memberi saran: “Ya Rasulullah, bunuh saja mereka!” Setelah itu Nabi berpaling kepada Abubakar dan beliau memberi saran,
فقال يارسول الله نرى أن تعفو عنهم وأن تقبل منهم افداء

“Wahai Rasulullah, kami berpendapat, sebaiknya engkau memaafkan mereka dan menerima tebusan dari mereka.”

Menurut Abdullah yang meriwayatkan hadis tersebut, Rasulullah diam dan tidak menjawab dan langsung masuk ke kemah, kemudian keluar sambil berkata “Wahai Abubakar, engkau seperti Nabi Isa alaihi sallam yang berkata, seperti diabadikan dalam Alquran:
إِن تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِن تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Sebaliknya, ia menolek kepada Umar dan berkata, “Sesungguhnya engkau wahai Umar tak ubahnya seperti Musa sambil berkata,” seperti dalam Alquran,
وقال موسى …. ربنا اطمس على أموالهم واشدد على قلوبهم فلا يؤمنوا حتى يروا العذاب الأليم

Musa berkata: “………Ya Tuhan kami, binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih”

Tabiat manusia tidak sama, maka sikapnya pun berlainan, sekalipun dua saudara kandung. Di antara contohnya yang paling menonjol, di kalangan para Nabi adalah Musa dan Harun dan dari kalangan sahabat adalah Hasan dan Husein.

Kearifan Nabi dalam memimpin adalah tidak langsung menyalahkan. Nabi memahami kepribadian para sahabat ada yang الرفق والرحمة dan ada القوة والشدة.

Dalam hadis ini juga menunjukkan sejak di masa sahabat sudah ada kelompok tekstual dan ada pula kontekstual. Nabi dalam menghadapi para sahabat lebih dahulu berusaha memahami sahabat yang berbeda.

Sekarang muncul gejalah baru di kalangan umat jika terjadi perbedaan, mereka langsung dilabeli negatif: sesat, musyrik, dan kafir.■


BACA JUGA

Tags: