Khazanah Sejarah – Penyambutan Tahun Baru Islam Secara Meriah

Firmansyah Lafiri
Friday, 05 August 2022 | 03:42 Wita

Oleh : Prof Dr Ahmad M. Sewang MA, Ketua Umum IMMIM

ARTIKEL, Cendekia.News — Gagasan untuk memperingati tahun baru Islam untuk pertama kalinya muncul pada Konferensi Menteri-menteri Luar Negeri Islam di Rabat Maroko tahun 1974.

Gagasan ini diulangi dalam konferensi yang sama tahun 1978. Sejak itu, peringatan untuk menyambut datangnya tahun baru Islam bersamaan dengan datangnya abad XV H bergema di seluruh dunia Islam dengan pola perayaan: ada yang berskala internasional, dan ada yang bersifat nasional, yaitu dilaksanakan di setiap- negara.

Dalam menyambut datangnya abad XV H, 1 Muharram 1400 H/21 November 1979 M, di Indonesia dibentuk sebuah panitia nasional dengan perayaan besar-besaran. Sedang di daerah-daerah dibentuk panitia di tingkat provinsi dan di daerah.

Dalam hubungan ini, Provinsi Sulawesi Selatan (Sulbar belum dimekarkan). Dibentuk sebuah panitia di ibu kota provinsi (Ujungpandang) hampir semua tokoh, rijalul muslimim, baik yang ada di pemerintahan atau swasta terlibat dalam kepanitiaan.

Semua kegiatan dilaksanakan selama 10 hari yang disebut asratun kamilah, mulai dari tanggal 1 sampai 10 Muharram. Kegiataan ada yang bersifat tradisional, seperti pembacaan Berzanji dipusatkan di Masjid Takwa Jalan Irian dengan dibumbui berbagai macam kuliner.

Sedang kegiatan yang bersifat modern dipusatkan di Aula IMMIM, seperti diskusi panel, peragaan busana muslim, cerdas cermat sejarah Islam, Ceramah Ilmiah, dan banyak lagi kegiatan lainnya.(*)