Patuhi Sunatullah (1/3)

Firmansyah Lafiri
Sunday, 04 September 2022 | 22:19 Wita

TERSIRAT : Prof Dr Ir Andi Aladin MT, Dosen Teknik Kimia FTI UMI Makassar Pengurus AMKI, ICMI dan DDII Sulsel

OPINI, Cendekia.News — Sunnatullah adalah kebiasaan atau cara Allah dalam mengatur alam dunia. Kata sunna berarti kebiasaan, yaitu kebiasaan Allah dalam memperlakukan alam termasuk kebiasaan Allah dalam memperlakukan masyarakat manusia.

Secara istilah, dalam kamus besar Indonesia mendefinisikan bahwa sunnatullah sebagai hukum-hukum Allah yang disampaikan kepada umat manusia melalui para rasul, undang-undang keagamaan yang ditetapkan oleh Allah yang termaktub di dalam Alquran, dan hukum alam yang berjalan tetap dan otomatis.(https://www.republika.co.id/berita/o4y9465/sunnatullah-cara-kerja-allah).

Di dalam Ensiklopedi Islam, sunatullah diartikan sebagai jalan, perilaku, watak, peraturan atau hukum, dan hadis. Sunatullah merupakan ketentuan-ketentuan, hukum-hukum, atau ketetapan-ketetapan Allah SWT yang berlaku di alam semesta.

Dalam Alquran kata sunnatullah mengacu kepada hukum-hukum Allah yang berlaku kepada masyarakat. Seperti misalnya dalam surah QS al-Ahzab: 38, 62, QS al-Fathir; 43, dan QS Ghafir: 85.

Sejak alam ini diciptakan, Allah SWT telah menentukan hukum-hukumnya, sehingga alam bertingkah laku sesuai dengan hukum yang ditetapkan-Nya tersebut,

“Dan Dia menundukkan malam dan siang , matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami “ (QS An Nahl : 17).

Kepatuhan alam semesta terhadap ketentuan Allah SWT bukan karena keterpaksaan, tetapi betul-betul suka rela, seperti diterangkan Allah SWT dalam surah Fussilat: 11

“Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata keadanya dan kepada bumi: ‘Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa.

‘Keduanya menjawab: ‘Kami datang dengan suka hati”. Dengan tunduk dan patuhnya alam semesta pada aturan-aturan dan hukum Allah SWT, maka alam selalu bertingkah laku sesuai dengan aturan dan hukum tersebut.

Selain itu, tingkah laku alam juga bersifat tetap, sebagaimana firman Allah SWT, “Sebagai suatu sunatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan perubahan bagi sunatullah itu,” (QS al Fath :23).

Kalau saja seluruh alam tunduk patuh pada sunatullah, maka manusia beriman lagi beriman sudah seharusnya tunduk patuh pada sunatullah secara tulus, ikhlas, sebab itu jalan keselamatan. (Bersambung/*)


BACA JUGA