Patuhi Sunatullah (2/3)

Firmansyah Lafiri
Thursday, 08 September 2022 | 21:52 Wita

TERSIRAT: Prof Dr Ir Andi Aladin MT, Dosen Teknik Kimia FTI UMI Makassar, Pengurus AMKI, ICMI dan DDII Sulsel

OPINI, Cendekia.News — Dalam pandangan ateis atau non Muslim, isitilah sunnatullah seringkali disandingkan dengan istilah hukum alam atau bahkan dianggap sama oleh sebagian umat Islam sekuler.

Walaupun secara parsial ada benarnya pandangan penyamaan tersebut, namun, di antara keduanya terdapat perbedaaan yang sangat mendasar.

Di dalam konsep ateis dan sekuler, hukum kausalitas tersebut menafikan adanya kekuasaan dan kehendak tuhan, tetapi didasarkan atas potensi suatu benda atau usaha manusia saja.

Sementara, dalam pandangan Islam, justru faktor di luar diri manusia dan benda itulah yang menentukan hasil akhir dari hukum kausalitas tersebut.

Hukum sebab-akibat atau hukum kausalitas dalam Islam dipahami bahwa pada hakikatnya bukanlah sebab-sebab itu yang membawa akibat. Namun, akibat itu muncul karena Allah SWT yang menghendakiNya.

Ketentuan Allah yang berlaku terhadap segala ciptaan-Nya di alam ini sudah ada sejak dulu sampai sekarang.

Karena itu, umat Islam dituntut untuk selalu melakukan perjalanan dan penyelidikan di bumi, sehingga kita dapat sampai kepada suatu kesimpulan bahwa Allah dalam ketentuan-Nya telah mengikatkan antara sebab dengan musababnya.

Di dalam Alquran Allah berfirman, “Sesungguhnya telah berlaku sebelum kamu sunnah-sunnah Allah. Karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan rasul-rasul.” (QS Ali Imran: 137).

Kita, manusia sebagai mahluk berfikir, tidaklah diciptakan Allah SWT sebagai mahluk untuk menciptakan sunatullah dan kebenaran, tetapi tugas kita cukuplah mengikuti atau menjalani sunatullah dan kebenaran itu, memahami kemungkinan keterkaitan berbagai variable yang berperan dalam sunnatullah.

Dengan demikian hidup ini sederhana saja, jalani saja sunnatullah dan kebenaran dan jangan melawannya.

Semakin patuh dan taat kita hidup di atas sunnatullah dan kebenaran maka semakin selamat dan bahagialah hidup ini, sebaliknya semakin melenceng dan melawan sunnatullah dan kebenaran maka semakin sengsaralah hidup ini.

Fenomena carut marutnya kehidupan sosial di berbagai belahan bumi ini dipastikan disebabkan sikap kepongahan dan kesombongan kita melawan kebenaran terhadap sunnatullah. (Bersambung/*)


BACA JUGA

Tags: