Patuhi Sunatullah (3/3)

Firmansyah Lafiri
Sunday, 11 September 2022 | 12:18 Wita

TERSIRAT : Prof Dr Ir Andi Aladin MT, Dosen Teknik Kimia FTI UMI Makassar Pengurus AMKI, ICMI dan DDII Sulsel

OPINI, Cendekia.News — Sunatullah itu adalah kebenaran Ilahi dalam menetapkan dan mengatur segala sesuatu. Sunatullah dan Kebenaran itu sumbernya satu, yaitu dari Tuhan Pencipta alam semesta, Allah SWT.

Seperti tersurat dalam al Quran : Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu (QS Al Baqarah 147). Kebenaran pada hakekatnya kekuatan yang mengikat, tidak mungkin untuk ditawar apalagi untuk diingkari.

Kalau kita memaksakan mengingkari kebenaran baik secara sadar ataupun tanpa sadar, maka cepat atau lambat, langsung atau tidak langsung akan memberikan dampak terhadap pengingkaran kebenaran tersebut.

Fakta misalnya air (H2O) mendidih pada suhu 100 derajat celcius pada tekanan 1 atmosfir, itu adalah kebenaran sunnatullah. Ya, kebenaran dimana Allah SWT telah menetapkan hukumNya, berupa sifat-sifat chemist dan fisik pada molekul air, termasuk titik didih air terebut.

Kita tidak dapat mengingkarinya atau merubahnya, kecuali merekayasanya dengan cara mengotak atik kondisi yang lain, misalnya menurunkan tekanan sehingga titik didih juga turun. Tetapi korelasi suhu (T) dan tekanan (P) itu pun sunnatullah itu sendiri.

Hubungan antara tekanan dan suhu, seperti yang telah dirumuskan saintis tergambarkan dalam persamaan gas ideal (PV=nRT). Adakah diantara kita yang mampu membuat air mendidih pada suhu di bawah 100 derajat celcius katakanlah suhu 50 derajat celcius pada tekanan 1 atm ?. Sekalipun seluruh saintis bersatu untuk melakukannya, tidak akan pernah mampu melakukannya.

Ketika Allah swt menantang manusia untuk membuat ayat tandingan semisal dengan ayat Allah, maka Allah swt memastikan manusia tidak akan sanggup sekalipun seluruh manusia bersatu untuk membuat ayat tandingan tersebut (Al Baqarah 23-24).

Walaupun ayat Allah yang dimaksud itu adalah ayat qauliyah dalam al Quran, namun sebetulnya secara tersirat juga termasuk ayat-ayat Allah di alam ini dalam bentuk ayat-ayat qauniyah, yaitu hukum-hukum Allah atau sunnatullah, seperti sunnatullah pada air yang dicontohkan di atas.

Manusia tidak mungkin merubahnya atau membuat hukum tandingan terhadap sunnatullah pada air tersebut. “Sebagai suatu sunatullah yang telah berlaku sejak dahulu,

“Kamu sekali-kali tiada akan menemukan perubahan bagi sunatullah itu,” (QS al fath :23). Maka sekali lagi tugas manusia sederhana cukup mematuhi sunnatullah, tidak perlu menciptkan hukum tandingan. Wallahu wa’lam.(*)