Mencintai Nabi (1/4)

Firmansyah Lafiri
Thursday, 29 September 2022 | 00:26 Wita

Tersirat : Andi Aladin, Guru Besar Teknik Kimia FTI UMI Makassar dan Pengurus AMKI, ICMI dan DDII Sulsel

OPINI, Cendekia.News — Seperti biasanya, setiap tanggal 12 Rabiul awal, sebagian kaum muslimin memperingati hari istimewa tersebut sebagai hari kelahiran (maulud) Nabi panutan kita semua Muhammad SAW. Tahun ini 12 Rabiul Awal 1444H bertepatan tangal 8 oktober 2022.

Peringatan dilakukan dengan berbagai ragam bentuk, namun semuanya menunjukkan satu ungkapan perasaan dan ekspresi cinta kepada baginda Nabiullah Muhammad SAW, sebagai Nabi dan Rasul akhir zaman, tidak akan ada lagi Nabi setelahnya, yang bermakna ajaran dan missi kerasulan yang dibawakannya sudah final dan sempurna.

Sejujurnya peringatan seremonial kelahiran Nabi SAW tersebut yang dikenal di Indonesia dengan istilah maulid Nabi tidak pernah dilakukan dan/atau diperintahkan oleh Nabi SAW, dan karenanya tidak pernah pula dilakukan oleh para sahabat-sahabat beliau radiallahu anhu ajemain, singkatnya tidak pernah dilakukan acara maulid oleh generasi salaf.

Namun belakangan di generasi khalaf, dengan semakin berkembangnya ummat Islam dari sisi jumlah dan area penyebaran islam, maka sebagian ulama Islam berinovasi menjadikan hari maulid Nabi SAW sebagai moment tahunan yang dianggap tepat untuk dijadikan sarana dakwah.

Terutama kepada muslim awam, yang muallaf bahkan kepada orang non muslim yang dalam pencarian dan kegelisahan rohaninya, bisa jadi perayaan maulid adalah salah satu bentuk untuk mengupgrade ke-awam-annya dan kegelisahannya dalam menemukan hakekat hidup dan ketentraman rohaninya.

Kata pribahasa, “tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta”. Dengan perayaan maulid Nabi SAW diharapkan kaum muslimin lebih mengenal Nabinya, sehingga tumbuh rasa cinta kepada beliau SAW. Ketika cinta sudah bersemi, harapan melahirkan ketaatan yang tulus.

Dengan cinta, kata pujangga, “gunung pun kudaki, lautan kuseberangi”. Jika cinta sudah hadir, pekerjaan jadi ringan, semangat jadi membara, pengorbanan tak akan dihitung-hitung lagi. Harta dan jiwa siap dikorbankan demi mengikuti ajaran Nabiullah Muahammad SAW.

Lahirnya rasa cinta, maka kita bersedia menjadikan Nabi SAW sebagai idola, teladan dan panutan dalam hidup. Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah (Al ahzab:21).(Bersambung)